20 Jul 2013
13 Jul 2013
CERPEN : Gak Selamanya Dia Musuh
“Siapa? Ross? Dari sisi mana kamu melihat dia
cantik? I called her ‘Bunga Bangke’”
“What? Orang itu? Entah mimpi
apa ibunya melahirkan anak dengan hidung diseluruh wajahnya”.
Tak ada yang heran lagi jika
kedua siswa ini saling ejek-ejekan. “entah nasib sial apa aku dijadikan sekelas
terus dengan sipinokio berburuk rupa itu” lebih dari 3x sehari Ross berkata
seperti itu, seperti kalimat pokok nan wajib jika mendumel. Mereka berdua
memang sedari SMP selalu sekelas, saat SMP mereka bahkan hampir akrab. Hingga
suatu ketika Paul berpacaran dengan sahabat Ross ketika menduduki kelas 2 SMP,
kemudian membuat sahabatnya menangis selama 3 hari ketika mereka putus. Semenjak
itu, bukan hanya perang dingin, Ross dan Paul pernah saling lempar-lemparan
kerikil ketika kelas 1 SMA. Perang bacot bahkan akan sangat memanas ketika
mereka berada dikelompok yang berbeda untuk memberdebatkan materi presentasi
disepanjang mereka menduduki SMA. Mungkin Via sahabat Ross telah melupakan
cinta monyetnya dengan Paul dan memutuskan mengambil SMA diluar kota. Namun Ross
masih menyalahkan Paul akan hal itu. Setelah lebih dari tiga tahun mereka
perang panas, mereka menjadikan hal apapun sebagai sebuah masalah. Jika ditanyakan
kepada Ross awal mula terjadinya kebencian dihatinya, dia akan berkata “aku
lupa” sambil mengangkat bahu dan berpikir keras. Itu terlihat dikerutan dahinya
yang begitu mengkerut. Sedangkan Paul “mmm… aku dan bunga bangke itu memang
tidak cocok.” “sejak kapan?” “Sejak lahir!!” dengan nada yang tinggi.
“Ok kelas tambahan sepulang
sekolah, yang artinya aku harus lebih lama bersama pinokio berburuk rupa itu!” “it’s
never ever ever happened!!” teriak Paul menyambung dumelan Ross. Namun kemudian
mereka menjalani setahun ajaran terakhir dengan success tanpa ada adu bacot.
“nah begitu… jadilah siswa
teladan disekolah ini, kalian berdua harus akur, kan kalian juara umum
disekolah, jangan diancam dulu baru mau akur” ujar Kepala Sekolah yang
menceramahi mereka didepan seluruh siswa saat pidato perpisahan kelas 3
dipanggung pensi. Meskipun begitu, mereka masih saja saling menatap sinis, tak
ada perang panas, perang dingin pun terjadi.
**
Dua bulan terakhir setelah UN,
tentu saja mereka disibukkan oleh urusan surat ini dan itu untuk melengkapi
pendaftaran Universitas. Sekolah SMA yang mereka rindukan, bangku-bangku kayu usang
penuh coretan Tip-X, dan hiasan spidol menghiasi dinding belakang sekolan,
dinding-dinding kantin dan toilet. Ross berjalan perlahan melewati kelas
terakhir yang dia tempati seusai mengurus cap-cap untuk surat KHUN. Ram-ram
berdebu menembus bayang-bayang didalam kelas, seorang pria sambil menggoyangkan
kedua kakinya, “Hey ngapain kamu disini” meloncat turun dari atas meja “ngurusin
surat-suratlah, sama kayak kamu” jawab Ross masih ketus. “kamu ngerasain apa
yang aku rasain gk sih?” Paul datang menghampiri Ross. “apaa?” ‘entah apa yang
teradi pada jantungku, tiba-tiba berdetak begitu kencang’ gumam Ross dalam
batin. “akuuu.. kurasa aku merindukan kelas ini” ucap Paul sambil berlalu
meninggalkan Ross. ‘ya Tuhan.. aku gugup’ batin si pinokio berburuk rupa, dengan
wajah penuh penyesalan yang enggan memalingkan wajahnya kebelakang.
“aku bahkan merindukan kita”
tertunduk gadis itu membenci kedua pikiran sama yang menurutnya berbeda.
“hufttt.. merindukan kelas katanya? Bodoh!!!”
Ross berlalu kearah yang berbeda.
“Tuhan, bukan itu yang ingin aku katakana! Aku
merindukan Ross!” Paul masih menggerutu.
**
“ya Ampun tidak adakah yang mau membantuku
membawa koper-koper ini keatas??” Ross menatap rumah koss yang bertumpuk tinggi
menjulang kelangit, “lebih mirip rumah susun,” dumelnya lagi. Seseorang menyambar
salah satu koper dari genggamannya, dengan reflex Ross yang cepat menatap sosok
itu. “sini aku bantu” Paul berlalu dengan koper Ross dan segandeng tas miliknya
yang isinya mungkin hanya beberapa helai pakaian dan minyak wangi yang tak
dipungkiri adalah axe biru aroma yang selalu menempel ditubuhnya sejak SMP.
“Kamu ngekos disini?” pertanyaan yang ingin
sekali dilontarkan Ross, sayangnya kalimat itu masih tersedak ditenggorokannya.
“kamar berapa?” Tanya Paul yang berjalan 10 meter didepan Ross, sangat mirip
pelayan hotel berseragam yang sedang membawakan tas. Paul hanya tak ingin Ross
tau betapa gugupnya dia bisa membantu gadis ini. “506”.
“Ya, kita sampai”. “udah sampe disini aja,
makasih ya?!” Ross melontarkan senyumnya yang very famous sweet di SMA dulu. “kamarku
disitu, 504.” Sambil menggaruk kepala, suara grasak-grusuk pintu kamar 505
seperti akan membuka pintu mengalihkan pandangan Ross dan Paul, wajah yang tak asing.
“Ross??” “Via?? aaaaarrrggghhhh” mereka saling berpelukan. Tidak melupakan Paul,
via mengerutkan alisnya menduga-duga pria yang ada dihadapannya. “Paul?? Kalian
berdua…?” dengan tatapan curiga via. “enggaaaak” Ross tiba-tiba berteriak
menghentikan pikiran via mengenai kedekatan mereka. Mimic wajah Paul berubah “Ya
Tuhan, seharusnya aku tidak berkata begitu, tapi yasudahlah toh dia juga tidak
terlihat menyukaiku” isi hati Ross penuh dengan penyesalan, dan pula banyak
pertanyaan “lalu mengapa dia tampak sedih setelah aku…”
“Hey Ross ayo beres-beres kamar kamu, aku
bantuin bengong aja sih hahaha” via membangunkan Ross yang hanya terpaku
didepan kamar memikirkan pinokionya.
**
“kini aku ingat penyebab dari perang aku dan Ross
selama ini.”
“knok – knok – knok…” Paul yang sedari tadi
tak beraktivitas hanya berbaring memikirkan bunganya kini beranjak bangun
membuka pintu.
“hai Paul, lagi apa?” via mencoba melirik
kedalam kamar pada cela-cela kosong yang tertutup badan Paul. “gk lagi
ngapa-ngapin.” “aku boleh masuk gk kekamar?” “gk boleh..” “ih boleh dong…”
beberapa menit mereka berdebat didepan, yang terdengar hingga kamar Ross dan
membuat bunga bangkai ingin mengintip keluar. Sepertinya suara pintu tak
bersahabat dengannya, membuat Paul dan via berhenti berdebat dan malah
memperhatikan Ross yang mengintip disela pintu. Via menghampiri Ross dengan
wajah cemberutnya “Ross, Paul gak ngijinin aku masuk kekamarnya… huhuhuhu…”
rengek gadis pirang itu. “Viaaa…! Lagi ngapain coba masuk kekamar cowok? Centil
banget sih?!!!” bentak Ross kesal. Ross meninggalkan via dengan membanting
pintu kamar, itu malah membuat Paul cekikikan.
“Paul ini semua salahmu!!!” via masuk
kekamarnya membawa serta kekesalanya.
“knok – knok – knok…”
“siapa?” teriak gadis bunga bangkai dari
dalam kamar.
“Paul.” Ross langsung menyambar gagang pintu
dengan semangatnya!
“hai…” Paul menyapa dengan mengangkat tangan
kekanannya. Ross malah diam dan menatap mata sipinokio berburuk rupa itu.
“lagi ngapain?” Ross menggelengkan kepalanya,
mengartikan dia hanya sedang memikirkan Paul ‘namun aku rasa Paul tidak
mengerti’ malah mengartikan gelengan kepala itu sebagai tanda tidak ada
aktivitas penting kecuali bernafas. Ross menatap Paul dari ujung rambut hingga
ujung sepatu yang sangat terlihat betapa salting(salah tingkah)nya sipinokio
ini. Ross pun tak kalah gugupnya dengan Paul.
“kalo kamu?” akhirnya Ross membuka suara. Paul
membalas gelengan kepala Ross yang tadi.
“apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?”
“I don’t think so… apa?” kali ini Ross tidak
ingin kecewa dengan harapan ‘sama’ dalam pikirannya. Dan Paul tidak ingin
membuat Ross kecewa.
“aku rasa aku merindukan kita” diikuti dengan
sebuah garukan kepala! Ross membius Paul dengan jawaban sebuah senyuman yang
terkenal manis itu.
“apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?” Ross
membalikkan pertanyaan sii pinokio itu.
“we one step closer?!!” jawab Paul sambil
tersenyum ;)
CERPEN : Jeremi Yang Lain
Aku bukan
gadis yang luwes, have a good many friends. So many people knows me, but thers
not talk to me. Mungkin karena aku kurang memiliki waktu nongkrong dengan
mereka. Aku lebih senang membaca novel atau pulang dan tidur saja dirumah jika
waktu sekolah usai, atau untuk mengisi waktu luang. Membahas masalah pribadi
atau menceritakannya kepada oranglain, menggosipi atau mengudge orang bukanlah
tipeku. Betapa pintarnya aku menjaga ucapanku, bahkan untuk menjaga perasaanku
kepada Mr.J pun akulah ahlinya. Nice guy, cute faces adalah criteria Mr.J.
Untuk yang
pertama kalinya Mr.J ini membuatku simpati, ketika kami berada dibangku kelas 2
SMA. Dia mempresentasikan tentang pencernaan sapi didepan kelas dengan bahasa
baku yang indah. Dia tidak sedang berpuisi atau membaca syair, namun nada
suaranya sungguh melodis dan membuatku tercengang, aku terpesona padanya.
Setahun
berlalu, ini adalah anniversary setahun aku menyukainya. Aku melingkari
kalender yang tertata diatas meja belajarku dengan stabilo bertinta pink, warna
kesukaanku. Yang harus kalian tau, aku bukan hanya pintar menjaga rahasia, dan
perasaanku, tapi aku pintar menjaga pandanganku. Tentunya agar Mr. J tidak tau
betapa nyata cinta yang terpampang dari mataku ketika menatapnya.
Dikelas 3
SMA ini kami focus untuk menghadapi ujian Negara. Keuntunganku, kami mendapat
kelas tambahan 3 jam sepulang sekolah. Itu artinya I have plus time with him.
Namun tetap saja, aku tak berani memulai untuk mendekatinya.
“Janet, nnty
malam ada party birthday dirumah Jeremi, kamu dateng gk?” ana gadis sebangku
denganku, gadis yang powerfull dan penuh energik. Seluruh teman sekelas bahkan
guru mengatakan aku dan ana sangat cocok untuk saling mengisi. Dia adalah
satu2nya gadis yang sering curhat seluruh masalah pribadinya padaku. Bahkan
cerita first date-nya dengan Jeremi, Mr. J ku. “Jeremi terlalu kekanak-kanakan
net, waktu kita hangout ke mall kemarin, dia ninggalin aku ditempat makan dan
malah asik main di funworld”. Tiga jam sudah aku mendengarnya bercerita tanpa
berkedip, aku tak ingin melewatkan satu katapun cerita tentang Jeremi.
**
“Janet, kamu mau gk jadi pacarku?” entah
sudah berapa pria yang melontarkan kalimat itu. Entah berapa puluh novel yang
diberikan mereka pada saat valentine musim kemarin. Bahkan “Stupid and
Contagious” karya Caprice Crane tertumpuk tiga sekaligus yang diberikan tiga
pria yang berbeda. Aku telah memikirkan untuk menjualnya kemana atau
menyumbangkannya saja. Sayang sekali tak satupun bingkisan atau kartu yg
tercantum nama Jeremi, “dan sayangnya lagi tak satupun pria yang mampu
mengalihkan bayangan Jeremi dimata hati ini,” dengan telunjuk menunjuk dada.
**
“Janet, kamu
datang juga?”, “Baru kali ini liat Janet pake gaun mini gitu” seru para
undangan yang mayoritas teman sekelas. Aku bahkan menghabiskan waktu tiga jam
dandan hanya untuk tampil istimewa di pesta Jeremi.
“siapa gadis
itu? Gadis yang dirangkul Jeremi?” pandanganku berhasil dialihkankan dari
hidangan pesta. Aku menjalani dua jam party dengan penuh senyuman, senyuman
kehancuran adalah kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan perasaanku. “namun
yang kalian ketahui, keahlianku adalah memendam perasaan.” Sepanjang pesta
berlangsung, Jeremi dan gadis itu bagaikan perangko dan amplop, “menempel!!!”
aku pulang dengan perasaan cemburu, kini aku belajar bagaimana rasa itu dan
belajar menyimpannya.
Meskipun terlihat
Mr.J telah berpacaran, tetap saja hatiku bertahan ingin memilikinya, hingga
masa SMA berakhir, dan aku masih melingkari tanggal yang sama pada kalender
yang berbeda. Anniversary 2th aku menyukai Mr.J, dan dia tak pernah tau
perasaanku. Seluruh mantan siswa terlihat sibuk mengurus surat ini itu untuk
mendaftar di Universitas.
“Janet, kamu
tau gk kalo Jeremi akan menikah bulan depan? Aku sudah mendapatkan undangannya”
aku terpaku bisu menatap Ana yang mengobok-obok isi perut tasnya yang mungkin
isinya satu set makeup dengan merk yang berbeda-beda. Sebuah undangan hijau
digenggamnya keluar dari tas seharga 45rb, sebuah tas lukis berbahan semi jinz
yang sedang trand di sekolahan. Dengan tergesa-gesa, aku merampasnya “hey slow
down Janet,” aku mengalihkan pandanganku pada undangan itu dan membukanya “katanya
sih hamil”. “Benar” hanya itu yang keluar dari mulutku setelah melihat isi kertas
hijau. Air mata yang tak terbendung sudah pasti, dan jangan lupa dengan ulu-ku
yang tercabik-cabik. “Janet kamu kenpp…” belum selesai Ana berbicara “Aku gk
percaya naaa… Jeremi pria yang aku suka sejak kelas 2 SMA dia pria yang mampu
membuat jantungku berhenti berdetak ketika aku cemburu, dan berdebar kencang
ketika dia menatapku, kamu tau alasanku menolak pria2 itu? DIA!!” Ana
tercengang menatapku, entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya membisu. Aku
terisak menangis selama 2 jam untuk merelakan waktu 2 tahunku menyukainya, dan
selama itu ana diam menatapku.
Dia terlihat
ingin bicara, namun dia kembali menutup mulutnya melihat aku masih terisak “hey,hey
yang terpenting sekarang, kamu sudah bisa terbuka, masalah Jeremi, jangan lagi
kamu pikirkan, nanti kita cari Jeremi yang lain di Universitas.” “Jeremi yang
lain?” kalimat itu membuatku tersenyum, dan membuat ana terbahak. Mungkin dia
tidak menyangka hanya dengan kalimat itu bisa membuatku tersenyum.
Langganan:
Postingan (Atom)

