Get Money

 

14 Apr 2012

CERPEN : Berakhir Dimalam Itu


Di sore itu, seorang gadis dengan pipi merona duduk terpojok sambil membasahi pipinya yang sedikit tembem. Dia menangisi seseorang yang dia tau akan meninggalkannya. Mungkin belum sekarang pikir gadis itu, tapi suatu saat nanti dia yakin pria yang berstatus pacarnya itu akan meninggalkannya. Terdengar isakkan tangisnya semakin kencang, dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti kalau dia ditinggalkan. Semua itu dia ketahui dari sebuah jejaring social yang menunjukkan sesuatu yang mencurigakan milik Alex pacar dari Aii pasangan yang sama-sama berusia 18 tahun. Di sana Aii menemukan sebuah percakapan Alex dengan temannya yang mengatakan bahwa Alex tidak benar-benar mencintai Aii. Itu adalah sebuah pernyataan yang cukup jelas bagi Aii untuk mengetahui bahwa Alex akan meninggalkannya.
 Dering handphone Aii berbunyi, dia menghapus kedua airmatanya kemudian mulai mengangkat telpon. “Hallo” sapa Aii dengan suara yang terdengar masihlah lesuh. “Aii, kamu udah siap-siap?” kata-kata itu membuat Aii ingat bahwa hari ini Alex mengajaknya makan malam bersama keluarga Alex. “ya ampun sayang aku belum mandi” sambil berdiri dan bergegas menuju kamar mandi. “yasudah, gk usah buru-buru sayang, ini juga masih jam 5 sore” jawab Alex menenagkan pacarnya yang terdengar sedang terburu-buru.
Mereka berdua adalah pasangan yang sangat harmonis, jarang sekali terdengar mereka berkelahi, bercekcok atau semacamnya. Aii adalah gadis dengan wajah yang manis dan Alex pun tidak kalah manisnya. Mereka berdua telah menghabiskan waktu 8 bulan untuk pacaran dan sekarang Aii di ajak Alex untuk dikenalkan kepada orang tuanya.
Tepat jam 6.30 sehabis magrib Aii di jemput Alex, Aii sebenarnya masih menyimpan sebuah kekesalan dari apa yang dia baca tadi siang. Tapi Aii tidak mau merusak suasana yang harmonis ini untuk yang pertama kalinya. Mereka menuju rumah Alex dan sampai tepat pada pukul 7.00 dimana keluarganya sudah mulai berkumpul dan berbincang-bincang di meja makan menunggu kedatangan Alex. “sayang, aku gugup” berbisik dan tersenyum manis kepada keluarga Alex yang menyambut hangat kedatangan Aii. “tenang aja sayang, mereka pasti suka kok pilihan Alex” sekali lagi Alex menenangkan Aii.
Malam itu adalah malam yang menyenangkan, mereka bercerita akrab sekali seakan-akan Aii sudah lama dikenal keluarga Alex. Namun tetap saja tulisan itu tidak sekalipun hilang dalam ingatan Aii. Aii berada didalam posisi kemunafikan dimana dia harus tersenyum didalam kehancuran yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya “untuk apa semua ini jika kamu akan meninggalkan ku?”. Namun sekali lagi Aii tidak mau merusak suasana makan malam yang mengasikkan.
Makan malam dan perbincangan telah usai dan kurang lebih jam 9 Alex mengantar Aii pulang. Seperti biasa, Aii akan mencium tangan pacarnya dan berkata “hati-hati sayang, jangan ngebut” tapi bukan itu yang keluar dari mulut Aii.
“Apa kamu mencintai ku?” dengan suara yang bergetar, dan mata yang berembun. Alex menatap Aii heran dan menjawab “tantu saja sayang”. “tapi kamu mau ninggalin Aii…” air matanya tidak tertahan lagi, Aii menjatuhkan dompet yang dia pegang dan menunduk menutupi wajahnya yang basah dengan air mata. Alex turun dari motor dan memeluk Aii, “hei, hei ada apa ini?” bertanya-tanya. “Aii baca pesan kamu, kamu Cuma mainin Aii kamu gk cinta sama Aii” sambil menangis dia mencoba berbicara. Alex mulai berpikir dan mulai mengerti apa yang dimakud dari ucapan Aii. “untuk apa semua ini? Untuk apa Alex kenalin Aii sama keluarga kalo nantinya mau ninggalin Aii? Alex jangan nunggu lama lagi, sekarang aja.. jika lebih lama lagi, Aii akan semakin sakit” Aii mulai meronta dan melepaskan pelukan Alex. Kini Aii masuk kedalam rumahnya sambil berlari. “pulanglah… sampai mendapatkan jawaban untuk pertanyaanku jangan pernah menemuiku”.
Kemudian Alex tidak pernah ada kabar, dan Aii terus saja menunggu. Dalam penantiannya dia terus saja membaca pesan percakapan Alex dan kawannya yang berisi:
“hay lex, kamu benar berpacaran dengan Aii?” Tanya Donita wanita yang sempat dekat dengan Alex. Dia wanita yang kaya dan berbadan sexy. Kakinya sangat indah sehingga dy senang mengunakan celana pendek dan rok mini. Tapi sayang sekali, berkali-kali dia ikut casting berkali-kali pula di tolak. Kulit wajahnya yang merona merupakan kelebihannya, dan sayang Aii lebih dulu memikat hati Alex. Aii bukanlah gadis Kaya, hidupnya sederhana dan apa adanya. Wajahnya enak dipandang meskipun kadang 1 jerawat datang merusak pemandangan, pinggul Aii yang besar, membuat aii tidak cocok menggunakan rok mini atau celana ketat. Rambutnya pun tidak rapih dan hampir selalu diikat, dia hidup bersama kakak laki-lakinya yang memiliki profesi yang sama dengannya yaitu kuliah. Pesona, perilaku Aii yang perhatian terhadap siapapun membuat gadis yang satu ini banyak di sukai kawan-kawannya. Percakapan Alex selanjutnya adalah:
“ah, ngegosip aja kamu” jawab Alex. “tapi benerkan gossip aku?” kembali Donita melontarkan pertanyaan. “aku gk benar-benar cinta kali sama Aii, cuma iseng aja pacaran sama Aii” kalimat itulah yang dilontarkan oleh Alex untuk sebuah pertanyaan yang konyol. Beberapa minggu Aii menunggu dan hanya bisa meneteskan airmata jika membaca pesan tersebut, selanjutnya Aii mulai bosan dan membuka pikirannya “jika dia tidak mau mengakui aku sebagai pacarnya, seharusnya dia tidak perlu menjawabnya, tidak perlu mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku! Setiap hari dia selalu mengatakan cinta dan sekarang karena gengsinya dia tidak mau mengakuinya” itulah yang kini ada di benak Aii. Hanya karna Aii dari keluarga yang sederhana, sehingga dia tidak mau mengakui gadis yang berparas manis itu. Disitulah titik terang majunya kehidupan seorang gadis yang sedang patah hati. Aii kembali membuka dirinya dan mendapatkan kembali pacar yang kaya.
“Sekarang entah sakit apa yang akan didapatkan ku lagi” pikir Aii yang tidak kapok memacari cowok kaya.
READ MORE - CERPEN : Berakhir Dimalam Itu

11 Apr 2012

CERPEN : Albino

Albino, pria albino yang berdiri di pojok busway itu memiliki paras yang familiar. Dia terlihat seperti Bule, dan sayangnya hanyalah pria dengan DNA albino. Tatapannya sangat menyebalkan, seperti dia tidak mau dipandang oleh ku. Aku sama sekali tidak merasa risih dengan pandangan itu, dan terus memandangnya. Pemikiran ini sebenarnya sangat sederhana, dialah yang risih. Aku berjalan menghampirinya “matamu belekan” kemudian tersenyum seakan-akan aku meledeknya. Dia memalingkan wajah dan membersihkan seputaran matanya. Kemudian kembali menatapku “ituh hidungmu banjir” hahaha, kami mulai akrab. Di situlah awalnya kami saling ngobrol. Kami saling menanyakan hal-hal yang umum satu sama lain, terkadang dia mulai bertanya, dan terkadang aku yang mulai bertanya.
Pembicaraan yang sederhana seperti arah tujuan, sekolah, tempat tinggal, dll yang kemudian membuat kami mulai bertukar number handphone. Meskipun hanya pembicaraan sederhana, tapi rasanya itu sangat menyenangkan. Menyenangkan mendapat teman baru dari perjalanan dengan busway. Lalu, ini adalah awal dari persahabatan kami sekitar 4tahun yang lalu kelas 2SMP.
Inti dari cerita ini, sebenarnya adalah akhir dari sebuah kehancuran persahabatan. 4 tahun kebersaman kami hancur karna satu kata yang di lontarkan Ramz, pria albino yang aku anggap sahabat. Malam itu kami terjebak di depan toko, berteduh karena hujan yang lumayan membuat kami menghentikan perjalanan. “ri, Ram cemburu sama cowo Riri, Ram cinta sama Riri”. Suatu problem yang universal yaitu masalah cinta!
Sudah ratusan kali dia berkata “cemburu terhadap pacarku” dan ratusan kali pun aku berganti pacar. Aku hanya menganggap kata itu hanya sebuah lelucon yang konyol. Sehingga setiap dia berkata “aku cemburu” maka saat itulah aku memutuskan untuk putus dengan mereka. Tapi kali ini berbeda, dia menambahkan kata “Cinta” aku di dalam kalimat unik yang dia lontarkan setiap ada kesempatan! Sebenarnya kata “Cinta” juga sudah ratusan kali dia katakan. Jawabanku, hanya menggatak kepalanya dan tertawa! Kali ini Yang berbeda adalah mimik wajahnya. Dia menangis dan menggenggam kedua lengganku. kami saling berhadapan.
Disana sangat gelap, karena sudah pukul 23.56. kami pulang dari art festival perpisahan/kelulusan SMA Kami. Well jawabannya aku hanya memeluk dan membisu tanpa ada satu kata pun yang bisa aku sampaikan! Sebenarnya aku bingung harus bagaimana. Lututku lemas seakan tak memiliki patella. Dia tak pernah menangis sebelumnya, menangisi pacarnya, mantannya pun tak pernah. Pernah suatu hari dia marah, dan sedih karna aku menangisi pria yang memutuskanku di kelas 2 SMA. Namun itu tidak membuatnya menangis.
Hujan meredah seakan kebingungan melihat tingkah kami yang dingin. Dia seolah ingin melepaskan pelukanku meminta kepastian, tapi aku mengeluarkan energy ku memeluknya lebih kencang. Seakan hanyut beberapa menit, aku mengingat semua yang pernah kita lalui 1minggu belakangan ini, tidak! 1 minggu tidak cukup, tapi 4 tahun kebersamaan kami ini, semuanya sangat indah seperti lagu “Andaikan kau datang kembai” dengan lirik “terlalu indah di lupakan” oleh tante Ruth…
Seperti yang aku ingat, saat kelulusan SMP yang seharusnya kuhabiskan 3hari bersama segerombolan kawanan SMP di puncak malah ku habiskan waktuku 3hari bersamanya di villa. Ehhem maksudku, bersamanya dan teman-temannya. Mereka juga kawanan yang lepas dari gerombolan, bahasa kasarnya bolos. Kami menginap di sebuah villa keluraga milik kawan sekelasnya, diawasi oleh ortu yang juga sedang berlibur. Disana kami melakukan aktivitas yang sangat melelahkan. Mulai dari memancing, kejar2an dengan sepedah, cebur2an di kali, dll.
Semua mengira kami adalah sepasang pasangan yang sedang berpacaran, lalu mereka akan berkata, “ah, kalian ini bikin kita iri saja”..
Aku ingat ketika itu tepatnya saat kelas 2 SMA, kami jalan2 mengelilingi kota dengan menaiki busway. Mencari angle yang pas untuk foto2. Gedung putih sebagai istana kerajaan kami, dan gedung konstitusi sebagai penjara bawah tanah. Rakyat pinggirannya adalah orang2 yang tinggal di kota. Begitulah kami merayakan hari Ultahku yang ke 16. Dengan meramaikan kota dengan sorak canda tawa kami.
Hari2 kami habiskan dikamarku, layaknya gadis seperkawanan yang sedang mencoba hal2 baru. Kami berbagi cerita, yang umum, rahasia, bahkan mengungkit masa kanak2 yang terkadang merupakan suatu kisah yang menggelikan. Dia berbagi orang tua, dan aku berbagi saudara. Karna kakak laki2lah satu2nya yang ku punya sekarang. Yang lainnya gone. Dan leave me alone, hingga aku bertemu dengan Ram si albino, dan keluarganya yang mencintaiku layaknya anak perempuan mereka.


“Tidak aka nada yang berubah dari kita Ri, hanya saja kamu tidak boleh pacaran dengan orang lain” kata-katanya mulai dewasa, apa aku yang kekana2an? Perlahan aku melepas pelukannya dan menatap Ram sahabatku, si pria albino ini yang kira2 30cm lebih tinggi dari ku. Tatapanku seolah sama seperti kita pertama bertemu di busway, tapi saat itu I wish him to be my friend, and now I expect him to be my boyfriend. So, for my first time, i pull his collar, and kissed his lips.

Hii.. this is my pict  (˘˘)
READ MORE - CERPEN : Albino

7 Feb 2012

CERPEN : Mimpi Bebas


Satu tahun empat bulan delapan hari, aku terkurung dalam hatinya yang sepi, gelap, kelam dan ketakutan. Aku selalu bertanya-tanya mengapa aku berada disini? Di dunianya dan terkurung dalam semua aturan yang dia berikan? Mimpiku kini berubah dari mimpi ingin menjadi gadis terbahagia dengan pangerannya layaknya cinderela menjadi rasa ingin bebas dan ingin melakukan apapun yang aku mau. Dia bukan pria yang bisa memanjakanku, atau pria yang penuh perhatian. Tapi dia adalah pria yang penuh aturan dan kekerasan namun dialah pria yang aku cinta, sedangkan aku? Aku adalah wanita bodoh yang terjerumus kedalam dunianya, menjadi bonekanya, dan gadis yang mulai merasa bosan dengan semua itu!
Aku tersadar dari jatuhnya aku kedalam hatinya sejak pertengkaran hebat kemarin. Dia mengayunkan sehelai telapak tangannya ke pipiku dan membiarkan aku menangis semalaman sejak keempat kawan karibku pulang dari rumah. Apa aku terlalu bodoh, hingga harus selalu jujur apa yang aku lakukan dalam keseharianku? Tapi apa ada gunanya jika aku berbohong? Ya! Setidaknya jika aku berbohong dia tidak akan menamparku hari ini. Tapi bagaimana dengan hari-hari sebelumnya dia memukulku? Apa itu karna kejujuranku?
Aku tidak bisa hidup tenang selama ini karna semua aturannya. Tapi aku selalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa aku ingin bebas. Aku tidak ingin diatur dengan siapa aku harus berteman, apa yang harus aku lakukan hari ini, dan kapan aku harus keluar rumah atau berada di rumah!
Lima bulan berpacaran dengannya itu adalah hal yang indah, dia begitu ramah, dan sangat menyenangkan. Dan entah apa yang merasukinya, pria posesif ini mulai menunjukkan sifat aslinya. Sedangkan aku, sudah terperangkap didalam semua aturannya. Mungkin didalam benak anda, aku hanya perlu memutuskan dan meninggalkannya. Apa kalian tau? Aku selalu ingin melakukan hal itu, tapi aku takut menghilangkan semua kenangan tentang apa yang telah aku lakukan dengannya selama ini. Apakah ada pria lain yang bisa menerima keadaanku sekarang? Dalam pikiranku, itu sangat mustahil!
Hari ini aku tidak mempedulikan hal itu. Aku tidak peduli apakah nanti ada pria yang bisa menerimaku, ataukah tidak! Adakah cinta tulus yang dapat menggantikan keegoisannya? Itu sama sekali menghilang dari bayangan benakku selama beberapa hari. Yang aku pikirkan dan terpenting sekarang aku ingin bebas diusia mudaku 18tahun ini! Aku ingin memiliki dunia seperti dunia gadis-gadis lainnya. Dan aku ingin berteman dengan siapapun yang aku mau. Keluar rumah dan mencari hal-hal baru itu sangat menyenangkan. Kemudian aku akan membuat pesta setiap hari dan berkumpul dengan teman2ku di rumahku sendiri! Aku rindu dengan semua itu, semua yang aku lakukan sebelum aku bertemu dengan Brian pria usia 19thn ini!
Dengan gugup aku merencanakan kebebasanku dari Brian. Aku menutup semua jendela, pintu rumah, dan tak kubiarkan ada sedikitpun cela disana. Aku menyambar handphone dan tas dikamar, kemudian melangkahkan kaki dengan perasaan waswas, lalu berlari sekencangnya meninggalkan rumah. Dengan gemetar aku mengetikan SMS untuknya “Aku ingin bebas darimu, maka aku ingin kita putus setelah 1detik kamu membaca pesan ini” send! Aku menelan ludah dan menunggu respon darinya. Cuaca disini begitu panas, dan jantungku berdetak sangat kencang sambil terus-menerus menunduk menatap handphone yang aku genggam. Aku mulai bosan menunggu dan meletakkan HP dikantong, belum lepas handphone dari genggaman, dia kemudian berdering. Terlihat disitu namanya dan membuat keringatku bercucuran diseluruh wajahku. Sejenak aku berpikir apa aku harus mengangkatnya atau tidak.
“Hallo?” sahutku dengan nada ketakutan. “Kamu dimana?”
“a… a…emm… aku.. aku dirumah.” Dengan mata melotot menunggu jawaban darinya.
“kalau begitu, bukakan pintu, aku sekarang berada di depan pintu” dia berkata seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Dengan nada bicara yang lembut, dan penuh dengan permohonannya membuat aku hanya diam membisu, berpikir “apa dia sudah berubah? Apa dia tidak akan memukulku lagi?” gumam itulah yang terbenak dalam pikiranku. Aku berdiri dan melangkah menuju rumah. Masih jarak 10 meter, aku melihatnya berdiri tegap di depan rumah sambil memegang HP menunggu kubukakan pintu. Aku terdiam sejenak tidak meneruskan langkah kaki, aku bahkan berjalan mundur dan membalikkan badanku.
“Aku tidak mau membukakan pintu. Aku takut kau akan memukulku”aku masih berbicara dalam telpon. “Febi… Febi… dimana kamu?” tut..tut..tut… telpone kemudian terputus. Aku lupa! Dibawah pot terdapat kunci cadangan, dan dia tau itu!! Aku berlari sekencang mungkin menjauh dari sana, menaiki angkot dan menunggu sampai angkot ini berhenti ditujuannya. Aku tidak tau dimana dan kapan angkot ini akan menghentikan perjalanannya! Masih dalam perjalanan, HP kemudian bordering.
“Hallo?”
“kamu dimana Feb? nanti kamu kenapa-napa dijalan” dalam pikir ku, apa dia lupa kalo aku memiliki ban hitam karate? Kali ini aku tidak akan termakan omongannya. “aku di dalam kamar”.
“Kamar yang mana? Kamu jangan mempermaikanku Feb, kamu berani sama aku? Lalu apa…” tut..tut..
Aku memutuskan telpon, dan mematikan HP. Dia mulai kesal dan nada suaranya mulai kasar. Aku tidak suka. Aku pergi kekos teman dan menginap beberapa hari di sana. Aku bahkan takut untuk balik lagi kerumah ku! Kurasa, aku tidak akan pernah kembali!!
Kini, apa aku merasa bebas? Ya! Tentu saja! kini aku dapat melanjutkan mimpi-mimpiku yang stuck.
Kemudian kalian akan berpikir “lalu apa yang terjadi dengan Brian? Atau, apakah kalian tidak bertemu lagi? Bagaimana dengan rumah, barang-barang, dan kehidupanmu selanjutnya?” itu akan terjawab jika kamu membayangkan kebebasanku dalam minggu-minggu ini. Dan aku tak ingin ini berakhir… so???

READ MORE - CERPEN : Mimpi Bebas

10 Jan 2012

CERPEN : Merindukan bulan

Diatas sini, aku dan sahabatku menatap langit yang gelap, dan takkan ada awan putih yang berjalan terbawa angin, serta tak terlihat warna kuning karna silaunya matahari. Tapi Resa adalah matahari yang menyinari hatiku. Ketika senja mulai berdatangan, jingga akan menggantikan warnanya, lalu gelap akan menyelimuti malam-malam dimulainya hidup ku. Bercerita, bercanda, menangis, terharu, semuanya menjadi kenangan yang sangat indah di atas sini. Kami menyebutnya kerajaan pink. Tentu saja karena aku sangat menyukai pink. Atap rumahku kami jadikan sebagai kerajaan, dimana kami melakukan segala hal di sana, Aku dan Resa. Kami mulai bersahabat sejak kami berumur 8tahun. Sering bertemu dan berbagi cerita di tempat pengajian kami sehabis magrib. Berbeda sekolah bukanlah menjadi hambatan kami untuk bersahabat. Dia kemudian sering datang dan berkunjung kerumahku. Kemudian dia diadopsi oleh orangtuaku di panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Kami menobatkan atap rumahku sebagai kerajaan kami pada tanggal 31 desember 2005 itu saat kami  SMP. Dikala hujan kami akan basah dan bernyanyi disana “Sebuah Kisah Klasik” oleh Shela On 7 atau bahkan kami akan menyanyikan 1 album lagunya. Kami sangat menyukainya. Meskipun lagu itu menceritakan persahabatan yang akan pisah, namun tetap saja aku berharap ini tidak cepat terjadi padaku dan Resa, ini hanyalah masalah waktu dan sebuah lagu, karena aku tahu dalam sebuah pertemuan akan ada perpisahan. Kau tahu? Aku mencintai Resa melebihi cintaku pada diriku sendiri. Kami berbagi pacar, berbagi orangtua, berbagi teman, sampai hal2 kecil yang aku dan dia punya. Kami tidak pernah membawa siapapun kedalam kerajaan kami. Itu hanya milik kita berdua Aku dan Resa. Perdebatan hanya akan terjadi jika kami mulai sibuk dengan kegiatan bersama pacar kami masing-masing, dan itu sangat jarang terjadi. Ya! Itu sangat jarang! Karena lamanya waktu kami berpacaran dengan para pria tidak akan lebih dari 2 minggu. Dan itu sangat kebetulan terjadi selalu saja bersamaan. Ketika aku ingin mengenalkan pacarku pada Resa, dia ternyata juga ingin melakukan hal itu. Saat tadi pagi aku putus dengan pacarku, sorenya ketika Resa berada di sekolah Dia akan menelpon dan memberitahu padaku kalau dia juga. Entahlah, apa yang terjadi pada kami berdua. Dengan tinggi badan yang sama, kebanyakan orang akan bertanya “apa kalian kembar?” bentuk wajah kami juga sama. Hanya saja Resa agak kecoklatan kulitnya karena senang dengan olahraga Volly. Sedangkan aku putih pucat, tapi kata Resa aku seputih salju. Dia adalah satu-satunya orang yang berkata seperti itu. Aku bahkan tak pernah bertanya pada pacar, orangtuaku atau kedua adikku. Karena mereka masih kecil-kecil. Haha
Resa senang mengikuti lomba hingga tingkat nasional. Jika lomba yang diselenggarakan malam, aku selalu ada di sana dengan kedua orangtua kami. Karena aku akan melakukan apapun demi membuat sahabatku semangat. Begitu juga dengannya pada ku.
Dunia remajaku kebanyakan kami habiskan dimalam hari. Kami bisa kemana saja yang kami mau saat malam hari atau kami hanya berada dalam kerajaan menatap bulan yang tepat di atas kepala kami sampai kami harus tidur terlentang dan menghabiskan cemilan sebagai makanan kerajaan sambil diisi dengan membicarakan kejadian seru yang dialami seharian penuh tadi. Biasanya aku hanya dalam posisi mendengarkan, karena Resa memiliki banyak sekali kejadian yang menyenangkan dan seru dalam kesehariannya baik disekolah, ataupun ditempat dia latihan. Atau kami akan pergi ke cave, club malam, dan menghabiskan waktu di sana sampai pagi atau sampai kami lelah menari. Kami bahkan pernah pergi ke tempat jaipong yang dipenuhi oleh om-om yang tidak puas dengan istrinya dirumah. “sawer?? Saweeerrr…” haha kami akan berjoget disana, tertawa dan menertawakan orang. Tentu saja disana kitalah yang paling muda. 16 tahun. Ya dalam umur itu aku menjalani derita penyakit aneh, bukan xeroderma pigmentosum [XP] penyakit kulit yang tidak bisa terkena sinar matahari. Bukan! tapi sebuah kesalahan yang berawal dari demam saat aku berumur 2 tahun yang membuat aku mengalami kejang-kejang. Saat itu aku terlambat dilarikan ke RumahSakit, kemudian aku dirawat inap. Setelah beberapa hari sembuh, aku kembali sakit kemudian dirawat lagi, begitulah seterusnya, sampai berumur 7 tahun aku dilarikan ke Singapure untuk berobat, sembuh sih, aku tidak lagi mengalami demam dan kejang-kejang. namun setelah itu entah mengapa ini menjadi mimpi buruk bagi ku. Tidak ada lagi kejang-kejang tapi beberapa syaraf didalam otakku tidak lagi berfungsi yang mempengaruhi daya tahan tubuh dan mataku.
Badan ku akan sangat lemas, bisa saja kau menyebutnya lumpuh hingga tak bisa berbicara dan itu akan terjadi jika aku terkena sinar matahari dan menonton tv dalam jarak <5 m. sehingga aku tidak pernah keluar disiang hari dan menonton tv. Aku hanya akan membaca majalah untuk mengetahui perkembangan dunia remaja, dan melakukan aktivitas didalam rumah seperti sekolah private jam 7 malam sehabis aku mengaji. Jam 10 aku akan keluar rumah atau berdiam di kerajaan bersama sahabatku Resa. Hingga Resa mengantuk dan tertidur di sana. Resa menjalani sekolah siang agar dia bisa menemaniku saat malam nanti. Aku adalah gadis normal saat malam, dan disana aku sangat kesepian dan merasa gelap. Itu sebelum aku bertemu dengan Resa.
“Aku ingin jalan-jalan besok” Aku menatap resa dengan tatapan harapanku. “mau jalan kemana? Kita ke Plaza senayan gimana?” sahut Resa sambil tersenyum penuh tanya. “emang udah buka ya jam 6 pagi?”. Resa hanya menatapku. Raut wajahnya berubah menjadi kebingungan. “pokoknya aku mau jalan besok pagi!” teriakku memaksa. “gk bakalan di izinin Raniaaa” teriaknya. Aku tidak memperdulikan ucapannya, aku terus berjalan perlahan keluar kamar dan menuju meja makan. Seperti biasa disana keluargaku yang harmonis sedang duduk makan malam, kemudian aku melihat Resa menyusulku dan duduk mengambil piring dan makan bersama. Posisi kepalanya yang sedang focus pada makanan sedikit menunduk perlahan menatap ku.
“emm Umi, Aba, besok Rania mau jalan sama Resa. Besokkan hari minggu, Resa gk sekolah, Rania mau jalan sehari semalam sama Resa” perkataanku membuka percakapan saat heningnya suasana makan malam. Aku melihat perubahan wajah dasar Umi dan Aba yang tadinya biasa saja berubah, kerutan didahi adalah salah satu perubahan yang sangat terlihat. “gk bisa!!” dengan nada suara yang tinggi, dan Aba menggeletakkan sendok dan garpunya lalu berhenti makan. Aku penatap Umi kemudian dia tersenyum, seperti senyuman yang sangat menyedihkan. Karena matanya tidak tersorot mata kebahagiaan atau senyuman yang tulus. “Resa bisa nganterin Rania?” Umi mendinginkan suasana yang tegang. Aku menatap Aba yang terlihat cemas dengan kedua tangannya di letakkan diatas meja.
“bissa Umi, besokkan hari minggu”, jawab Resa. Aku tersenyum sambil menatap Resa yang tersenyum, kurasa itu senyuman terpaksa. Selesai makan kedua adikku sibuk dengan kesibukkan mereka, Resa menuju kerajaan sedangkan Umi dan Aba terlihat berjalan menuju ke ruang kerja. Aku bukan orang yang suka menguping, tapi kali ini aku mau tahu kenapa Umi mengizinkanku pergi dan apa yang akan dijelaskan Umi kepada Aba.
“Umi ngeliat rambut Rania yang rontok Ba, Umi ngeliat Rania mimisan saat dia tidur, jadi Umi pikir ini saatnya dia melakukan apapun yang dia mau” aku melihat Umi yang tak bisa lagi menahan tangis. Kemudian aku beranjak dari sana menuju ke depan tv dimana terdapat kedua adikku yang sedang asik nonton. Kami bercanda dan tertawa, rasanya ini barusaja terjadi. Aku tidak pernah begini kecuali dengan Resa. Sampai sekarang kedua adikku Radit yang telah berumur 5 tahun dan Rini yang berumur 4 tahun. Resa berjalan menghampiri dan dia tersenyum melihatku ikut bermain dengan kedua adikku. Kemudian dia beranjak dan berlari menuju kamar. Aku dan kedua adikku sampai tertidur disana dan tidak ada yang membangunkan kami untuk pindah kekamar kami masing-masing. Hingga saat aku terbangun subuh, dan menggendong mereka berdua kekamar. Setelah sholat subuh, aku mandi dan membangunkan Resa.
            Seperti biasanya, jika ada kesempatan Resa selalu menyisirkan rambutku dan begitu juga saat ini. Tiba-tiba Resa membalikkan badanku dari depan kaca meja rias, aku sama sekali tidak ingin menatap Resa dan tangisannya karna menangisi rambutku yang mulai habis. Aku ingin bahagia hingga saatnya aku mati.
            “perjalanan ini akan sangat menyenangkan bukan?” tanyaku dengan nada suara yang bahagia. Aku tak mendengar jawaban Resa, mungkin dia hanya mengangguk. Dia melilitkan sebuah jilbab untukku “sudah cantik” kata Resa.
            Kami pergi ke taman Kota, hanya aku dan Resa. Disana banyak pepohonan yang melindungiku. Saat Azan Zuhur berguman, aku mulai menatap langit kemudian menatap Resa. “Ran, hidung kamu berdarah” dengan nada suara yang bergetar. Dia berlari menuju mobil dan mengambil kursi roda yang sudah Umi siapkan untukku. Aku yakin dia tahu ini akan terjadi.
            Aku merasakan sengatan matahari yang menembus ranting-ranting pepohonan menusuk sampai kulitku. Rasanya sangat hangat dan aku bisa mengingat hal-hal yang Aku dan Resa lakukan tadi. Berjalan mengelilingi taman sambil menenteng cemilan yang kami persiapkan, main ayunan, bercanda di samping danau dan duduk menatap air yang mengalir menuju tempat yang indah. Aku tak ingin pulang Res, Aku ingin ketempat lain, aku ingin kemanapun tempat yang bisa membuatku tertawa tanpa harus mengingat kematianku yang akan datang sebentar lagi. Tapi aku tidak bisa bicara, aku tidak bisa mengatakannya, mataku pun rasanya sangat sulit untuk di kedipkan mulutku kaku.
Saat terbangun dari tidurku, aku berada di dalam mobil, aku berpikir kami sudah pulang karena kejadian tadi. Resa yang sedang menyetir tiba-tiba berhenti dalam antrian mobil yang panjang. “macet??” tanyaku, kemudian aku mendengar tawa Resa yang kemudian menatapku “ayo bangun dan lihat”. Ternyata kami sedang mengantri diautomatic car wash, cuci mobil otomotis. Aku yakin kamu tau, di sana kita tidak perlu keluar dari mobil, hanya perlu menutup jendela yang rapat agar air tidak masuk kedalam mobil dan mesin pencuci mobil otomatis akan memancarkan cairan sabun kepadamu. Salah satu tempat kesukaanku dan Resa untuk bersenang-senang. Kami masuk kedalam terowongan dan satu persatu alat itu akan memancarkan air ke mobil, mobil akan berjalan sendiri dipandu oleh alat-alat ini dan menyemprotkan air sabun, dan bergitulah seterusnya hingga mobilmu bersih. Di terowongan yang gelap, kami akan berteriak, bernyanyi, dan terkadang saat kami sedang enak-enaknya bernyanyi dan menghayati ternyata mobil sudah selesai dicuci dan telah keluar dari terowongan pencuci mobil. Kami akan merasa malu karena mereka yang berada di luar akan menatap kami dengan tatapan yang heran, seperti kamu sedang kepergok telanjang. Terbayang tidak malunya?
Kami melakukan hal yang sama disana, kemudian melakukan transaksi dan pergi sambil tertawa terbahak-bahak dengan apa yang kami lakukan tadi. “ tadi kamu tidak mengantarku pulang?” tanyaku menghentikan tawa Resa. “katanya kamu mau jalan bersamaku sehari semalam??” sambil tersenyum melanjutkan menyetir. Aku menggerakkan badanku melangkah maju ke bangku depan agar bisa menemaninya menyetir. Kami kemudian bercerita dan menceritakan tentang banyak hal, seperti style jilbab yang baru, model baju sophie M yang baru, karna sepertinya aku akan mulai mentupi kepalaku dengan jilbab J
Saat waktu ashar, kami sudah sampai di Mall Taman Anggrek. Ternyata Resa membuat janji dengan mantan kami. Kini kami jadi berempat, sangat seru! Mungkin Gustam dan Edgar kaget karna aku sudah mengenakan jilbab.
“Rania tambah cantik aja pake jilbab” gombal Edgar mantanku. Aku hanya tersenyum dan menatap Resa yang berjalan menuju Gustam lalu mengandengnya. “ayo kita ke iceskating” ajak Resa yang berjalan duluan bersama Gustam. Perasaan ku jadi degdekan berjalan di samping Edgar, padahal aku sudah beberapa bulan putus dengannya. Edgar tiba-tiba memegang tangan ku, aku menatapnya dan tersenyum. Kami menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Selanjutnya kami mengantar mereka pulang, tepat pukul 00.10 aku dan Resa masih berada dalam perjalanan pulang. Kami membicarakan hal yang terjadi seharian tadi. Terlebih banyak kami membicarakan betapa serunya kami bersama mantan pacar kami. Doubledate J aku bahagia, aku benar-benar merasakan bahagia. Sebahagianya diriku hingga aku tak bisa bernafas, aku merasa seluruh badanku kaku dan tak bisa bergerak, hingga jantungku berhenti berdetak. Rasanya sakit keluar dari raga yang Tuhan ciptakan untukku. aku bahkan ingin menangis karna begitu sakitnya terasa hingga ujung rambutku. Tapi inilah kematian yang aku inginkan, sakit itu bahkan tidak terasa karna bahagianya aku bersama Resa.
Sesampainya di rumah, aku melihat Resa menggotongku masuk ke dalam rumah sambil menangis, aku yakin itu adalah tangis bahagianya untukku.
“Aku Sayang kamu Resa, dan aku akan menunggumu di sini, di kerajaan Kita”. Bisikkan ku itu akan terbawa oleh angin menembus kalbunya.
Beberapa bulan kemudian, aku merasa kesepian disini. Menunggu Resa datang, tapi tak ada satupun bayangannya muncul. Entahlah, mungkin keluargaku pindah rumah dan membawa Resa, aku berharap mereka tidak akan jahat kepadaku dan kembali membawa Resa kesini. Aku sangat sedih sehingga tiap malam aku hanya bisa membayangkan wajah Resa berada dilangit. Semenjak itu bulan tidak ada, dia hilang bersama Resa. Yang aku butuhkan sekarang bukanlah cahaya matahari yang dipancarkan Resa setiap hari-harinya aku, tapi kenangan dari cahaya bulan yang disinarkannya saat malam-malamnya aku bersamanya. Aku merindukan bulan itu dan berharap bulan itu datang secepatnya, menghapus airmata dan menghentikan tangis kesepian ku di tiap hari dan malamnya aku menunggunya. Sungguh aku merindukan bulan.
READ MORE - CERPEN : Merindukan bulan