Get Money

 

22 Sep 2013

ISN'T MY REAL FACE

BIG EYES  with CrazyTalk CamSuite, magic mirror, morph, effect, turban, hijabers, cute, pict of my self, webcamp, enjoy :) all and 6 favorite..
"abang gue yg menyebalkan ngajakin ke kondangan. dia begadang mungkin tidur saat matahari sudah menyinari malam. pukul 6 pagi. sebelum gue tidur, sambil main game online dia berkata 'bangunin jam 11. setelah lu makeup, lukan makeup lama'. matanya masih menatap layar komputer. 'iya' jawab gue singkat. paginya, seperti biasanya dihari minggu, membuat roti, kopi, energen, kemudian duduk ngampar depan ruang tamu sambil menatap pc. pukul 10.23 gue beranjak dari lantai yang tidak empuk pastinya dan mandi mengingat emang gue kalo makeup itu lama. apalagi kekondangan :D 
'a' bangun' kata gue sambil mencolek2 pipinya. 'putri udah kelar makeup. matanya melek melirik kearah gue kemudian tertawa. aku meninggalkannya kedapur membuatkan secangkir energen new testi strowberi dan kembali kekamar 'a' nih energen! ayuuu banguuun' kataku lagi berdiri didepan dia tidur. dia kembali tertawa. 'kayaknya gk jadi niorang jalan kekondangan' dalam benakku. sayang sekali diri ini sudah dandan n pake turban. akhirnya punya ide buat bikin wajah pegel dengan foto2. dan ini hasilnya..." CEKIDOT -->
"INI CERITAKU.. APA CERITAMU??" korban iklan -_-!

BIG EYES , magic mirror, morph, effect, turban, hijabers, cute, pict of my self, webcamp

BIG EYES , magic mirror, morph, effect, turban, hijabers, cute, pict of my self, webcamp

READ MORE - ISN'T MY REAL FACE

12 Sep 2013

CERPEN : Kapan Aku Akan Mati Tuhan?

Aduh-aduh-aduh pusing tujuh keliling, tidak pernah punya the real pacar, tugas kuliah numpuk, tidak punya uang, pengisi hatipun sirnah”. Seandainya kalian bisa mendengar nyanyianku diatas, itu lagu yang aku ciptakan sendiri. Aku akan memberikan judul “kekasih tak sampai”. Itu konyol, judul lagunya tak singkron dengan dompet kosong, bahkan aku ini seorang jomblo, meskipun bukan jomblo setia, karena kerap kali aku menjadi selingkuhan.
“hon, kamu jangan SMS aku dulu ya?! Pacar aku curiga nih sama aku. Sampai aku sms kamu lagi, love you”. Kira-kira begitulah isi SMS terakhir Herman 2 bulan yang lalu.
“oh… jadi kamu cewek penggoda pacar aku? Jauhin gk pacar aku, atauuu..” sambil mengangkat lengannya ingin memukulku. Tentu saja dicegat oleh pacarnya sendiri, Very pria lain yang menjadikanku selingkuhannya. Enak ya jadi selingkuhan, pasti selalu dilindungi. “oh jadi ini beb cewek yang jadi pacar kamu?” sahutku santai. “aku sih gk level bersaing dengan gadis kampungan, dekil, pendek, jelek kayak kamu,” aku melirik very dengan tatapan sinis, dia membalas dengan tatapan disappointed. Sedangkan pacarnya? Tentu saja dengan red face dan marah. “tentu saja aku akan menjauhi Very, setelah tau seleranya rendahan kayak kamu. Lagipula dia yang mengajakku berkencan”. Dengan anggun aku berbalik badan dan berjalan meninggalkan mereka. Kejadian itu tepat sehari setelah Herman mengirim ku SMS diatas, dua bulan lalu. Bulan itu adalah bulan terberat tahun ini. Meskipun ada beberapa pria lain yang mengajakku berkencan yang berakhir naas seperti itu ditahun2 kemarin. Tapi Herman dan Very adalah favorite ku, karna tak pernah memberiku barang, tapi cash money.
Pacar? jangan tanyakan padaku mengapa aku tak punya pacar. mungkin akan ada diakhir cerita, so keep read and enjoy haha
“kamu adalah gadis yang cantik, sekolahlah yang benar, dan terus belajar”.
“Dear, ayah so pround dengan prestasi2 mu”.
“Don’t stop belajar kid”.
Ya kurang lebih itulah kalimat yang aku ingat dari ayahku yang telah lama meninggal. “I’m boring belajar ayah, aku tidak bisa menikahi fisika atau kimia. Bahkan memeluk geografi, kecuali dengan guru-guru mata pelajaran tersebut. Tapi seleraku bukan pria tua ayah. Mungkin ayah sudah melihatnya dari surga, aku tak lagi gadis kutubuku, aku bosan belajar ayah, dan aku memiliki banyak pacar. sebenarnya pacar orang lain.” Dan kalimat itulah yang aku ucapkan setiapkali ziarah.
Memutuskan untuk menjadi selingkuhan pada umur 15 tahun itu tidak gampang, karna aku melewati sebuah alasan yang membuatku memilih option tersebut.
“kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau jika kamu terus belajar nak” sambil mengusap punggungku. “I don’t think so mah! I can’t get boyfriend, can’t get bestfriend, fun, holiday, I can’t breath”. Sambil menangis ku ungkapkan semua kekesalanku. Bahkan mama ku tak bisa begitu jelas mendengear apa yang aku katakan, begitu terisak. “why this happen to me?” mama bahkan bosan dengan pertanyaan itu. “buka hatimu, kamu terlalu mengunci hingga tak ada orang yang bisa masuk. Jangan biarkan ini kosong” sambil menunjuk dadaku, dan kemudian dia memelukku erat. Aku tak bermaksud mengecewakannya, tapi aku hanya ingin lagi mendengarkan apa kata hatiku. “aku pernah merasakan kecewa karna ditinggal ma, aku tak akan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama. Pergilah ma, pergilah dengan pria yang telah menggantikan ayah, lupakan bahwa aku pernah dilahirkan”. “ayah tak pernah tergantikan nak”. Suara hafasnya menghilang, langkah kaki tak pernah lagi terdengar. 3 hari aku mengunci diri di rumah ayah  yang jauh dari keramaian kota, ditengah2 kebun cengkih yang dia tinggalkan. Mama bahkan tak ingin mengurus kebun ini untuk ayah, dan berencana menjualnya. Dia lebih memilih tinggal bersama pria amerika itu.
Mamah tidak seburuk itu, mungkin karena aku kesal kepada Tuhan dan takdirku, hingga aku berpikiran buruk kepada semua orang seperti yang kalian baca barusan. Meskipun terkadang dia lupa mengirim uang jajan seperti sekarang. Papa tiriku juga, dia mengajakku tinggal bersamanya dan mamah di DC untuk berobat, bahkan uangnya habis untuk obat2an yang aku minum hingga sekarang. Aku memutuskan menyetujui menjual perkebunan ayah untuk membantu pengobatan, dan biaya kuliaih. Dan aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian di indonesia ini setelah difonis hidup tinggal setahun pada umur 15. Dan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersenang2, mengganggu hubungan orang lain dengan menjadi selingkuhan. Yang aku bingung mengapa aku masih hidup hingga sekarang berumur 21? Bahkan sudah menjadi dishonest professional? Haha.
Arteri koroner katanya. Ah bulshit dokter2 itu! Atau memang karena aku yang selalu tertawa? Mungkin karena koleksi DVD Tom&Jerry yang selalu membuatku tertawa dan tak pernah membuatku bosan? “Tertawa bahagia bisa memanjangkan umur” do you believe that?
“rani, ini fita dikelas kosmologi dan logika matematika. Kamu udah belum tugas yang dikasih pak eduard?” suara dari telpon. “ya sudah. Kamu mau liat?” kataku tanpa basa-basi. “yasudah, bagaimana kalau aku kerumah kamu?” jawabnya excited “kamu sepertinya mahir dimata kuliah ini, tolong ajari aku ya.. kayaknya aku salah masuk jurusan deh, semuanya gk ngerti, padahal aku Cuma pintar dibidang fisika dan matematika, aku pikir astronomi itu indah, ternyata sulit… bla…bla… bla… ” oceh-nya cepat. Aku terdiam sejenak, mengingat yang dikatakan mama “buka hatimu,” like a song you know? By armada hahaha lagi. Aku memikirkan kalimat yang pas untuk tidak membuatnya kecewa atau menganggap aku ini sombong akan prestasi dikampus “maaf ran, aku sedang gk dirumah, aku kirim email aja ya?” aku tak ingin membuka hatiku. Sama sekali gk ingin membuat mereka merasa kehilangan sekalipun itu wanita, atau pria. “mm.. ywdh deh. Lainkali boleh gk?” tanyanya “sms aja alamat emailnya, dah” tuut…tuut…tuut… putus, memotong pembicaraan. Huftttt…
Terkadang aku merasa bingung dengan prinsip itu. Aku bahkan belum di izinkan untuk mati. Tapi aku masih saja takut membuka pintu hati ini bahkan untuk seorang teman. Mungkin karena aku merasa ajalku sudah sangat dekat, sedang membuntutiku. Aku takut ketika malam tiba, meskipun aku bisa melihat bintang yang bertaburan nan indah yang selalu aku tunggu-tunggu dikala siang, tapi aku tak ingin tidur dan tak bisa bangun lagi dipagi hari.
Mungkin aku akan hidup dengan prinsip itu meskipun itu membuat aku terkekang seumur hidup. Dari pada harus membuat orang-orang terdekat kecewa karna kehilangan seperti kecewaku kehilangan ayah. Kapan aku akan mati Tuhan? Prinsip itu perlahan telah membunuhku.
Well setelah menulis cerita ini, aku akan memutar seri “Heavenly puss” Tom & Jerry. Cerita itu tak pernah membuatku bosan :D
READ MORE - CERPEN : Kapan Aku Akan Mati Tuhan?

23 Agu 2013

CERPEN : SYAHLA

Langit2 rumah ini tak memilik 1 warna. Tidak kompak mengindahkan mata yang memandang, mungkin karena telah berabat2 dia disana, terendam hujan dan binatang yg sembarangan mengompol. Aku memandang sekeliling rumah seorang ibu setengah baya, kemudian masuk kedalam kehdupannya. "Bagaimana bisa dia mengadopsi ku? Sedangkan rumahnya saja sangat tidak layak di tempati" gumam ku dalam ketakutan.
Rumah ini gelap, lantainya berubin kuning dengan beberapa tambal semen menutupi bolong bolong pijakan kaki, sungguh menyedihkan. Dia bahkan tak memiliki pemanas air, hanya neon kuning 15watt dan ricecoocerlah barang elektronik dirumah ini. Umurku 8tahun saat itu. "Apa dia ibu kandungku? Bukankah yg layak mengadopsi adalah dia yg berkelebihan menghidupi dirinya?" gumamku lagi. Hanya sebuah kotak persegi rumah ini, tak ada depan dan belakang. Dua kamar berhadapan dan satu kamar mandi kita gunakan bersama. Dapur kecil itu akan menjadi tempatku memasak nanti "wah ada taman kecil dibelakang rumah" gumamku. aku berpikir untuk menamam seledri, dan lidah buaya.
Dia pasti tak butuh surat adopsi jika aku anak dari rahimnya, itu tergantung rapih dalam bingkai foto di kamarku, "apakah dia melakukannya agar aku tak kasihan setiap menyuntiknya?" Itu masih sebuah pertnyaan yg mendugaduga. Ibu tua ini begitu sakit, aku diajarkan untuk menyuntik insulin dua kali shari setiap jam 3 sore dan jam 5 dinihari setelah subuh kujalani. pembicaraan begitu terbatas, dia paling sering berkata dan selalu mengucapkan "bersabarlah little girl." Dia tak pernah menceritakan suami, atau anak. Tentusaja dia tidak punya anak makanya mengadopsi. Hingga aku merasa berumur 18 tahun. Hanya merasa karena aku tk pernah menghitungnya, mungkin aku lupa kapan hari ulantahunku. Aku menceritakan bahwa aku senang mendapat sebuah sertifikat bertuliskan "Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional & ijazah SMA" ibu itu mampu membayar homescholling yang ku jalani selama ini "bernyanyilah little girl untuk merayakan kelulusanmu" jawabnya. Dia sangat senang mendengarku bernyanyi, aku akan bernyanyi setap pagi jam 6 dan sore jam 4 ketika mandi, sometimes jika sedang memasak, aku akan bernyanyi. "Kalian pasti bertanya dari mana aku bisa mengenal musik jika aku terkurung dirumah tanpa Tv dan radio?" Guru homescholling lah yg mengenalinya, itulah caranya mengajariku bahasa inggris. Kami tumbuh bersama. Selain ibu, merekalah orang yg aku kenal, "owh iya, aku tidak akan melupakan tukang sayur yg tiap hari mengantarkan bahan2 masakan kerumah kotak ini".
Aku sudah menyayangi ibu ini, meskipun dia tak  banyak memberi perhatian layaknya ibu yg diharapkan anak2 panti lain ketika di adopsi. Tapi dia membuatku merasa cukup. Aku mengurusnya dgn spenuh tenagaku meski aku harus memandikan atau mengganti popoknya. Sepuluh tahun sudah aku terjebak disini, ditemani rutinitas bersama tembok2 bercat usang, sunyi. Terkadang aku ingat keramaian di panti asuhan, teriakan anak2 mengajakku bermain "syahlaaaaa" suara kaki mungil yg tak henti berlarian menghiasi hari2. Ingatan itu selalu bergentayangan, seperti baru terjadi kemarin setiap aku menatap bingkai yg usang tergantung didinding dengan paku yg berkarat, "hey 10tahun lalu itu belum berkarat" aku memperhatikan tanggal hari pertama aku dipungut. Yaitu hari ini. Aku sangat bersemangat menuju kamar, menghampiri ibu yg sudah siang tak kunjung keluar dari kamar. "ibu, syahla bisa masuk?" tak ada jawaban, hening. Aku menuju dapur dengan harapan ibu baik2 saja di dalam. "Mungkin dia sedang melamun seperti hari2 sebelumnya" semakin tua, semakin kurus, semakin jarang bicara, semakin banyak melamun.
Aku mondar mandir didalam rumah yg kecil ini, khawatir akan ibu yg tak kunjung keluar dari kamar, ini waktunya suntik insulin, sekali lagi aku mencoba mengetok2 pintu. "Ibu... Ibu.." Entah berapa lama aku memanggil kalimat itu hingga air mata ini tak terbendung. Aku sama sekali tidak pernah mendobrak pintu, aku takut dianggap tak sopan, dan hal itu membuatku malu. 
"Syahla... tok tok tok" aku loncat secepat kilat dari depan kamar, mengusap air mata yg kemudian mulai berhernti mengalir. "Kamu kenapa?" salah satu guru homeschooling ku dtg ingin mengajar. Ini hari selasa waktunya untuk biologi. Mem Rhisa yg mengajarkan Bahasa Prancis dan Biologi. "ibuuuuu..." kataku takut, kemudian kembali lagi aku menangis. Wanita ini langsung berlari menuju kamar, mendobrak. Jantungku seperti terpukul, seiring dgn rasa sakit pintu yg didobrak badan wanita itu, bersikeras merusak pintu. "Mamaaaaah" teriak wanita itu gemetar dan tangis yg membanjiri wajahnya...
***
Aku tak henti2nya membaca Alquran, menghatamkan untuk kepergian ibu. Bersama 3 guru homescholing di rumah yg begitu besar, atap yg indah, bohlam2 yg terang, ubin granat yg besar, dan banyak kamarnya. Aku mendapat tumpangan dikamar depan, kamar tamu katanya "biar syahla tidur di kamar tamu" ucap mem inggrit yg mengajar fisika, kimia, dan bahasa indonesia. Dia begitu anggun nan menawan, anak tertua mungkin. Orang2 berdatangan dan berlalu, memberi belasungkawa, yg lain membantu menghatamkan Alquran.
Hari ke empat stelah kematian ibu, aku diajak kesebuah ruangan keluarga, bersama pria berdasi rapih membawa beberapa dokumen yg ditentengnya oleh tangan sebelah kiri, tentu saja dia bukan salah satu anak ibu dan bukan salah satu orang yg ada di album keluarga atau foto keluarga raksaaa yg tergantung disetiap sisi ruangan, dengan bingkai raksasa juga. Sepertinya dia akan berbicara "ekhem.. surat warisan," matanya beralih menatapku "harta yang dmiliki ibu maya sarawati adalah bakery store, cave hardbakery, rumah ini senilai 8M dan rumah kotak senilai 200jt," dia kembali mengeluarkan dahak "ekhem" kemudian menatap sekeliling, aku juga menatap satu persatu guru homeschoolingku, menatap canggung "aku hanya belum terbiasa" batinku sambil mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Aku pecaya itu mampu menghilangkan gugup. Ser Billi tersenyum, seakan ingin menghilangkan kekhawatiranku. Seakan kita sedang bernyayi "we'll be alright" bersama di sini, menunjuk dada. Yaaa.. Seperti saat sebelumnya, seperti setiap hari jumat dia datang mengajarkanku bahasa inggris atau hari sabtu untuk pelajaran matematika dan sejarah. Kadang kami gunakan untuk bernyanyi dan mendengarkan cerita film2 yg baru saja dia tonton, kedengarannya seru dari pada harus mendengarkan cerita terbentuknya monumen nasional, Organisasi VOC ASEAN, peperangan diindonesia. 
"Bakery store di pimpin oleh Ingrit, cave hardbakery oleh Rhisa, rumah senilai 8M oleh Billy dan rumah kotak untuk Syahla" pria itu melanjutkan. Aku masih syok untuk tau ternyata smua guru homeschoolingku adalah anak ibu, bahkan aku baru tau ibu bernama Maya, sekarang pria itu membuatku tambah kepayangan.
***
Hari2 berlalu, aku kembali kerumah kotak diantar oleh Ser Billy, pria yang tumbuh bersamaku. Mungkin dia berumur 26th, "Hey, punya planing untuk tinggal bersamaku dirumah seberang saja?" Pria ini memang selalu mengalihkan perhatianku. Dari cara bicaranya, dan caranya menceritakan sesuatu sangat cocok untuk menjadi sejarawan.
"Aku menyayangimu ser" sayangnya kalimat itu tak dapat ku katakan, tersangkut di tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala. "Kalau begitu aku akan tinggal disini," Dia menatapku tajam, seakan serius akan ucapannya. Aku gugup, jantungku berhenti berdetak, kalimat itu seakan menjadi pembicaraan yang canggung. Aku tak begitu pandai berbicara, mungkin hatiku telah bisu, mungkin terbiasa diam melenyapkan harapan, menghancurkan mimpi. Aku masih terbiasa dengan jam 3, ada aktivitas disana, memegang suntik, kapas, alkohol, dan insulin. Mungkin ini caraku melenyapkan pembicaraan tadu. Aku terbiasa bernyanyi, menandakan aku masih bernafas. "Sekarang, aku akan mengubah kebiasaan itu" katanya, mengambil ibat-obatan itu dari tanganku dan mengepack semua perlengkapan ibu untuk dibuang "maukah kau membantuku membuang kenangan? dan membentuk kebiasaan baru bersamaku?" aku hanya mengangguk, itu cukup. "Apa aku sudah menjadi anak yg baik untuk ibu?" Akhirnya aku bicara. Kurasa kalimat itu mengalihkan pandangannya "Kamu sudah berikan yang terbaik untuk Ibu, sekarang belajarlah menjadi istri yang baik". Aku ingat dulu ketika aku menerima ijazah SD dia berkata hal yang mirip dengan itu "kamu harus berikan yg terbaik untuk ibu, dan belajar menjadi pacarku yg baik" menggenggam tanganku yg masih mungil kemudian menciumnya. Satu kalimat itu melenyapkan kesedihanku, dan menyelimutinya dengan harapan masadepan yg cerah, dengan lukisan senyuman.
"Besok kamu akan ku ajak melihat dunia" katanya, mengakhiri cerita kesunyian.


READ MORE - CERPEN : SYAHLA

CERPEN : Gk Suka Perceraian

"Cinderela yg kehilangan cepatu kacanya akhirnya menikah dan hidup  bahagia dgn sang pangeran. Itu yg mereka percaya, sebenarnya tak ada kisah yg bahagia setelah menikah. cinderela terlalu takut mengexpose khidupan stelah pernikahan mereka. Pangeran kini menjadi raja dan di perbolehkan poligami, jadi dia memiliki istri 4 disetiap bagian istananya yg besar. Bagian utara istri mudanya berumur 15thn, mereka baru saja menikah 2minggu yg lalu, namun perutnya sudah membuncit seperti berumur 6bulan. Bagian Timur istana ada istri ke 2nya berumur 17thn, yg sedang repot menyusui anaknya yg kembar. Bagian barat ada istri ke 3 berumur 20thn yg sedang mengepak barangnya, dia ingin pergi menceraikan Raja. Mungkin tak tahan karena Raja jarang mengunjunginya, mungkin dia akan menikah dgn sang petani mantan pacarnya yg masih sering mengSMSnya dan hidup bahagia di desa, tapi si petani akan poligami stelah 10thn pernikahannya karena panennya yg banyak dan menjadi kaya. sudah ku bilang tak ada yg bahagia setelah pernikahan. Lalu Cinderela sendiri di istana bagian Selatan, sedang menangis karena tidak dikaruniai anak." kemarin gadis ini bercerita ttg kisah perceraian beauty and beast. Dia merasa perlu meyakinkan Sahabatnya untuk tak percaya akan kisah yg indah pada waktunya.

"Kamu sepertinya trauma akan pernikahan cell, pernikahan orang tuaku berjalan baik. Mereka hidup rukun, akur, tentram dan damai bersama kami anak2nya. kamu tak perlu pikirkan kakakmu yg menjanda, ibu dan ayahmu, pamanmu yg telah menduda 3kali dan kluargamu yg lainnya yg meskipun smua tak ada yg berhasil dalam pernikahan mereka" Dengan percaya dirinya marcello.
***

Beberapa bulan kemudian "sudahlah Cello, sudah ku bilang tak ada yg indah setelah pernikahan." gadis ini tersenyum, tersenyum menghibur, dalam lubuknya dia tersenyum menang. "mungkin aku jahat telah tersenyum ketika sahabatku sedih, tapi aku sudah seribukali meyakinkannya agar tidak percaya. Aku melakukan semua ini agar dia selalu siap dgn apa yg akan dihadapinya, aku ingin dia tidak merasakan kiamat seperti apa yg aku rasa meskipun sekarang orangtuanya baru saja bercerai." batin gadis ini.

"Itukah sebabnya kamu tak pernah berpacaran?" marsello memalingkan wajahnya dari langit, menatap dalam kedua bola mata gadis ini. Dia penasaran apa yg membuat gadis ini begitu rapuh, begitu yakin tak ada yg indah pada waktunya. "i think so" jawabnya lantang. Suasanya menjadi canggung, bintang-bintang sekejap sirnah yg tadinya indah berhamburan. Awan gelap tak begitu jelas karena malam menyamarkan hitamnya. Mereka berdua sering melakukan ritual ini setiap Marsello putus cinta, setiap Marsello ditinggal bosan gadis2 yg pernah mengejarnya. Menceritakan suka dukanya kepada Cella dan cella akan menceritakan dongeng after weding versinya. Seperti kisah cinderela diatas.

Ritual curhat2an ini telah terjadi selama bertahun-tahun di atap rumah Marsello, kadang di taman rumah Cella jika rumput2 jepang tak berembun basah oleh udara dingin yg merenggut sore. Cella bangun dan duduk dari perbaringannya diatas tikar bergambar telletubis, yg tergeletak diatas beton tebal atap rumah cello. "sepertinya akan hujan" ujar gadis ini. "apa kamu tidak percaya cinta?" tanya sahabatnya lagi, masih berbaring menikmati angin2 yg diciptakan malam. "tidak...!" raut gadis ini berubah datar. "Tidak adakah Pria di kampus yg membuatmu jatuh cinta?" pria ini memberanjakan tubuhnya dari tikar, duduk sangat dekat dgn sahabatnya yg sedang mengangkat dagunya menatap langit. "pertanyaan macam apa itu?" batin gadis itu lagi. Jantungnya jadi berdebar, suhu badannya memanas mengalahkan udara dingin yg meniup2 tubuh mereka. Gelengan kepala dia rasa cukup untuk menjawab pertanyaan pria ini, yg sudah bertetangga dgnnya sejak lahir. Gelengan kepala itu berakhir dengan tatapan marahnya, dia menutupi gugupnya. "Aku suka kalau kamu marah, kamu terlihat cantik" cella berhenti menatap, "bagaimana caranya menutupi senyuman?"ujar gadis ini dalam hati.

Cello mengkerutkan dahinya "kalo aku ngomong, liat dong mataku" sejenak suasana hening. Gadis ini tak ingin memalingkan wajahnya yg disembunyikan oleh rambutnya yg panjang dan tebal, dia masih ingin menyembunyikan senyumannya. Tangan yg halus menghampiri dagu gadis ini, membuat rambutnya jatuh terurai, membawa rautnya berhadapan dengan wajahnya yg rupawan, mengecup bibir mungil yg belum tersentuh oleh bibir pria lain. Gadis ini meneteskan air mata yg mengalir di pipi kanannya. Jantungnya yg sedaritadi bedetak laju, berhenti seakan mati. Seluruh badannya menjadi kaku. "Sudah lama aku ingin melakukan itu agar hatimu mencair... aku ingin mengajarkanmu apa rasanya cinta. Tapi kamu selalu meyakinkanku bahwa cinta itu sangat pahit bagimu... Apa persahabatan kita selama ini begitu pahit bagimu?" setetes air mata tadi telah kering, meninggalkan bekas. Wajahnya masih menunjukan kekokohan hati, dendam, memancarkan amarah yg disimpannya, dia seperti bisu. Bahkan bisu tidak sama sepertinya. Kemana suara Cella yg selalu menentang dunia?

"Bagaimana kalau ternyata aku begini karena cemburu?" akhirnya kalimat keluar dari mulut gadis ini. Kali ini Marsello terlihat bingung "jelaskan" jawab marcello singkat. "Bagaimana kalau ternyata aku menentang cinta karena cemburu kepada mu? cemburu kepada pacar2 mu?! Aku hanya ingin meyakinkanmu cinta itu pahit agar kamu berhenti bersenang2 dgn gadis2 itu berhenti mencintai orang lain selain aku. Iya, persahabatan kita sangat pahit, karna aku terlalu lama diselimuti cemburu oleh cerita2 cinta mu  itu". Gadis ini gemetar, emosinya menusuk jantung yg memompa darah dgn cepat keseluruh tubuhnya. Pria ini membisu, dia tak tau apa yg harus dikatakannya "ternyata sahabatku begini karena aku?" batinnya, disisi lain dia tak mengerti mengapa ini terjadi kpd sahabatnya.


Cella berdiri meninggalkan pria yg telah membekukan hatinya "hatiku telah mengkristal dan terlapisi oleh baja, tak akan tembus oleh kecupan kecilmu itu" ucapnya sambil berlalu. Kecupan itu membuatnya confused, entah harus senang, atau marah. "jika kamu menyukaiku, mengapa harus mengeras seperti batu? Mengapa harus meninggalkanku?" hujan benar2 turun, pria ini berlari mengejar Cella yg sudah lebih dulu masuk kerumah. "aku tidak pernah meninggalkanmu, jika hatiku tak mengeras, seberapa kuatnya aku bertahan menahan sakit karna cemburu? aku masuk karena hujan, aku hanya tak mau repot hujan2an karna pembicaraan konyol ini." Gadis ini terus berjalan dgn cepat menjauhi sahabatnya. "hey, baiklah besok kamu akan aku nikahi, berhentilah berjalan cepat, aku minta maaf." cella menghentikan jalannya, "apa nanty kita akan bercerai?" sambil berbalik menghadap sahabatnya, notasi suara yg tadinya tinggi berubah 90° manja, seakan dia menyetujui ajakan pernikahan pria itu. "semua kemungkinan bisa terjadi kan?" jawab cello yg masih tetengah-engah. "kalau begitu aku tidak akan menikah...!" cella kemudian berlari keluar rumah "mamah cello, cella pulang ya.." sapa gadis itu singkat sambil berlalu dan membanting pintu rumah. "huh dasar gadis keras kepala, ternyata dia masih takut akan perceraian" guman Marsello sambil tersenyum. "kalau begitu, kamu harus berusaha lebih keras meyakinkannya, tdak akan pernah ada perrceraian dgn mu" celetuk mamah marcello yg asik membaca majalah diruang tamu. Senyuman terlukis diwajah pria itu "nikah aja belum! mah... mah"...
READ MORE - CERPEN : Gk Suka Perceraian