Get Money

 

12 Sep 2013

CERPEN : Kapan Aku Akan Mati Tuhan?

Aduh-aduh-aduh pusing tujuh keliling, tidak pernah punya the real pacar, tugas kuliah numpuk, tidak punya uang, pengisi hatipun sirnah”. Seandainya kalian bisa mendengar nyanyianku diatas, itu lagu yang aku ciptakan sendiri. Aku akan memberikan judul “kekasih tak sampai”. Itu konyol, judul lagunya tak singkron dengan dompet kosong, bahkan aku ini seorang jomblo, meskipun bukan jomblo setia, karena kerap kali aku menjadi selingkuhan.
“hon, kamu jangan SMS aku dulu ya?! Pacar aku curiga nih sama aku. Sampai aku sms kamu lagi, love you”. Kira-kira begitulah isi SMS terakhir Herman 2 bulan yang lalu.
“oh… jadi kamu cewek penggoda pacar aku? Jauhin gk pacar aku, atauuu..” sambil mengangkat lengannya ingin memukulku. Tentu saja dicegat oleh pacarnya sendiri, Very pria lain yang menjadikanku selingkuhannya. Enak ya jadi selingkuhan, pasti selalu dilindungi. “oh jadi ini beb cewek yang jadi pacar kamu?” sahutku santai. “aku sih gk level bersaing dengan gadis kampungan, dekil, pendek, jelek kayak kamu,” aku melirik very dengan tatapan sinis, dia membalas dengan tatapan disappointed. Sedangkan pacarnya? Tentu saja dengan red face dan marah. “tentu saja aku akan menjauhi Very, setelah tau seleranya rendahan kayak kamu. Lagipula dia yang mengajakku berkencan”. Dengan anggun aku berbalik badan dan berjalan meninggalkan mereka. Kejadian itu tepat sehari setelah Herman mengirim ku SMS diatas, dua bulan lalu. Bulan itu adalah bulan terberat tahun ini. Meskipun ada beberapa pria lain yang mengajakku berkencan yang berakhir naas seperti itu ditahun2 kemarin. Tapi Herman dan Very adalah favorite ku, karna tak pernah memberiku barang, tapi cash money.
Pacar? jangan tanyakan padaku mengapa aku tak punya pacar. mungkin akan ada diakhir cerita, so keep read and enjoy haha
“kamu adalah gadis yang cantik, sekolahlah yang benar, dan terus belajar”.
“Dear, ayah so pround dengan prestasi2 mu”.
“Don’t stop belajar kid”.
Ya kurang lebih itulah kalimat yang aku ingat dari ayahku yang telah lama meninggal. “I’m boring belajar ayah, aku tidak bisa menikahi fisika atau kimia. Bahkan memeluk geografi, kecuali dengan guru-guru mata pelajaran tersebut. Tapi seleraku bukan pria tua ayah. Mungkin ayah sudah melihatnya dari surga, aku tak lagi gadis kutubuku, aku bosan belajar ayah, dan aku memiliki banyak pacar. sebenarnya pacar orang lain.” Dan kalimat itulah yang aku ucapkan setiapkali ziarah.
Memutuskan untuk menjadi selingkuhan pada umur 15 tahun itu tidak gampang, karna aku melewati sebuah alasan yang membuatku memilih option tersebut.
“kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau jika kamu terus belajar nak” sambil mengusap punggungku. “I don’t think so mah! I can’t get boyfriend, can’t get bestfriend, fun, holiday, I can’t breath”. Sambil menangis ku ungkapkan semua kekesalanku. Bahkan mama ku tak bisa begitu jelas mendengear apa yang aku katakan, begitu terisak. “why this happen to me?” mama bahkan bosan dengan pertanyaan itu. “buka hatimu, kamu terlalu mengunci hingga tak ada orang yang bisa masuk. Jangan biarkan ini kosong” sambil menunjuk dadaku, dan kemudian dia memelukku erat. Aku tak bermaksud mengecewakannya, tapi aku hanya ingin lagi mendengarkan apa kata hatiku. “aku pernah merasakan kecewa karna ditinggal ma, aku tak akan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama. Pergilah ma, pergilah dengan pria yang telah menggantikan ayah, lupakan bahwa aku pernah dilahirkan”. “ayah tak pernah tergantikan nak”. Suara hafasnya menghilang, langkah kaki tak pernah lagi terdengar. 3 hari aku mengunci diri di rumah ayah  yang jauh dari keramaian kota, ditengah2 kebun cengkih yang dia tinggalkan. Mama bahkan tak ingin mengurus kebun ini untuk ayah, dan berencana menjualnya. Dia lebih memilih tinggal bersama pria amerika itu.
Mamah tidak seburuk itu, mungkin karena aku kesal kepada Tuhan dan takdirku, hingga aku berpikiran buruk kepada semua orang seperti yang kalian baca barusan. Meskipun terkadang dia lupa mengirim uang jajan seperti sekarang. Papa tiriku juga, dia mengajakku tinggal bersamanya dan mamah di DC untuk berobat, bahkan uangnya habis untuk obat2an yang aku minum hingga sekarang. Aku memutuskan menyetujui menjual perkebunan ayah untuk membantu pengobatan, dan biaya kuliaih. Dan aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian di indonesia ini setelah difonis hidup tinggal setahun pada umur 15. Dan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersenang2, mengganggu hubungan orang lain dengan menjadi selingkuhan. Yang aku bingung mengapa aku masih hidup hingga sekarang berumur 21? Bahkan sudah menjadi dishonest professional? Haha.
Arteri koroner katanya. Ah bulshit dokter2 itu! Atau memang karena aku yang selalu tertawa? Mungkin karena koleksi DVD Tom&Jerry yang selalu membuatku tertawa dan tak pernah membuatku bosan? “Tertawa bahagia bisa memanjangkan umur” do you believe that?
“rani, ini fita dikelas kosmologi dan logika matematika. Kamu udah belum tugas yang dikasih pak eduard?” suara dari telpon. “ya sudah. Kamu mau liat?” kataku tanpa basa-basi. “yasudah, bagaimana kalau aku kerumah kamu?” jawabnya excited “kamu sepertinya mahir dimata kuliah ini, tolong ajari aku ya.. kayaknya aku salah masuk jurusan deh, semuanya gk ngerti, padahal aku Cuma pintar dibidang fisika dan matematika, aku pikir astronomi itu indah, ternyata sulit… bla…bla… bla… ” oceh-nya cepat. Aku terdiam sejenak, mengingat yang dikatakan mama “buka hatimu,” like a song you know? By armada hahaha lagi. Aku memikirkan kalimat yang pas untuk tidak membuatnya kecewa atau menganggap aku ini sombong akan prestasi dikampus “maaf ran, aku sedang gk dirumah, aku kirim email aja ya?” aku tak ingin membuka hatiku. Sama sekali gk ingin membuat mereka merasa kehilangan sekalipun itu wanita, atau pria. “mm.. ywdh deh. Lainkali boleh gk?” tanyanya “sms aja alamat emailnya, dah” tuut…tuut…tuut… putus, memotong pembicaraan. Huftttt…
Terkadang aku merasa bingung dengan prinsip itu. Aku bahkan belum di izinkan untuk mati. Tapi aku masih saja takut membuka pintu hati ini bahkan untuk seorang teman. Mungkin karena aku merasa ajalku sudah sangat dekat, sedang membuntutiku. Aku takut ketika malam tiba, meskipun aku bisa melihat bintang yang bertaburan nan indah yang selalu aku tunggu-tunggu dikala siang, tapi aku tak ingin tidur dan tak bisa bangun lagi dipagi hari.
Mungkin aku akan hidup dengan prinsip itu meskipun itu membuat aku terkekang seumur hidup. Dari pada harus membuat orang-orang terdekat kecewa karna kehilangan seperti kecewaku kehilangan ayah. Kapan aku akan mati Tuhan? Prinsip itu perlahan telah membunuhku.
Well setelah menulis cerita ini, aku akan memutar seri “Heavenly puss” Tom & Jerry. Cerita itu tak pernah membuatku bosan :D
READ MORE - CERPEN : Kapan Aku Akan Mati Tuhan?

23 Agu 2013

CERPEN : SYAHLA

Langit2 rumah ini tak memilik 1 warna. Tidak kompak mengindahkan mata yang memandang, mungkin karena telah berabat2 dia disana, terendam hujan dan binatang yg sembarangan mengompol. Aku memandang sekeliling rumah seorang ibu setengah baya, kemudian masuk kedalam kehdupannya. "Bagaimana bisa dia mengadopsi ku? Sedangkan rumahnya saja sangat tidak layak di tempati" gumam ku dalam ketakutan.
Rumah ini gelap, lantainya berubin kuning dengan beberapa tambal semen menutupi bolong bolong pijakan kaki, sungguh menyedihkan. Dia bahkan tak memiliki pemanas air, hanya neon kuning 15watt dan ricecoocerlah barang elektronik dirumah ini. Umurku 8tahun saat itu. "Apa dia ibu kandungku? Bukankah yg layak mengadopsi adalah dia yg berkelebihan menghidupi dirinya?" gumamku lagi. Hanya sebuah kotak persegi rumah ini, tak ada depan dan belakang. Dua kamar berhadapan dan satu kamar mandi kita gunakan bersama. Dapur kecil itu akan menjadi tempatku memasak nanti "wah ada taman kecil dibelakang rumah" gumamku. aku berpikir untuk menamam seledri, dan lidah buaya.
Dia pasti tak butuh surat adopsi jika aku anak dari rahimnya, itu tergantung rapih dalam bingkai foto di kamarku, "apakah dia melakukannya agar aku tak kasihan setiap menyuntiknya?" Itu masih sebuah pertnyaan yg mendugaduga. Ibu tua ini begitu sakit, aku diajarkan untuk menyuntik insulin dua kali shari setiap jam 3 sore dan jam 5 dinihari setelah subuh kujalani. pembicaraan begitu terbatas, dia paling sering berkata dan selalu mengucapkan "bersabarlah little girl." Dia tak pernah menceritakan suami, atau anak. Tentusaja dia tidak punya anak makanya mengadopsi. Hingga aku merasa berumur 18 tahun. Hanya merasa karena aku tk pernah menghitungnya, mungkin aku lupa kapan hari ulantahunku. Aku menceritakan bahwa aku senang mendapat sebuah sertifikat bertuliskan "Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional & ijazah SMA" ibu itu mampu membayar homescholling yang ku jalani selama ini "bernyanyilah little girl untuk merayakan kelulusanmu" jawabnya. Dia sangat senang mendengarku bernyanyi, aku akan bernyanyi setap pagi jam 6 dan sore jam 4 ketika mandi, sometimes jika sedang memasak, aku akan bernyanyi. "Kalian pasti bertanya dari mana aku bisa mengenal musik jika aku terkurung dirumah tanpa Tv dan radio?" Guru homescholling lah yg mengenalinya, itulah caranya mengajariku bahasa inggris. Kami tumbuh bersama. Selain ibu, merekalah orang yg aku kenal, "owh iya, aku tidak akan melupakan tukang sayur yg tiap hari mengantarkan bahan2 masakan kerumah kotak ini".
Aku sudah menyayangi ibu ini, meskipun dia tak  banyak memberi perhatian layaknya ibu yg diharapkan anak2 panti lain ketika di adopsi. Tapi dia membuatku merasa cukup. Aku mengurusnya dgn spenuh tenagaku meski aku harus memandikan atau mengganti popoknya. Sepuluh tahun sudah aku terjebak disini, ditemani rutinitas bersama tembok2 bercat usang, sunyi. Terkadang aku ingat keramaian di panti asuhan, teriakan anak2 mengajakku bermain "syahlaaaaa" suara kaki mungil yg tak henti berlarian menghiasi hari2. Ingatan itu selalu bergentayangan, seperti baru terjadi kemarin setiap aku menatap bingkai yg usang tergantung didinding dengan paku yg berkarat, "hey 10tahun lalu itu belum berkarat" aku memperhatikan tanggal hari pertama aku dipungut. Yaitu hari ini. Aku sangat bersemangat menuju kamar, menghampiri ibu yg sudah siang tak kunjung keluar dari kamar. "ibu, syahla bisa masuk?" tak ada jawaban, hening. Aku menuju dapur dengan harapan ibu baik2 saja di dalam. "Mungkin dia sedang melamun seperti hari2 sebelumnya" semakin tua, semakin kurus, semakin jarang bicara, semakin banyak melamun.
Aku mondar mandir didalam rumah yg kecil ini, khawatir akan ibu yg tak kunjung keluar dari kamar, ini waktunya suntik insulin, sekali lagi aku mencoba mengetok2 pintu. "Ibu... Ibu.." Entah berapa lama aku memanggil kalimat itu hingga air mata ini tak terbendung. Aku sama sekali tidak pernah mendobrak pintu, aku takut dianggap tak sopan, dan hal itu membuatku malu. 
"Syahla... tok tok tok" aku loncat secepat kilat dari depan kamar, mengusap air mata yg kemudian mulai berhernti mengalir. "Kamu kenapa?" salah satu guru homeschooling ku dtg ingin mengajar. Ini hari selasa waktunya untuk biologi. Mem Rhisa yg mengajarkan Bahasa Prancis dan Biologi. "ibuuuuu..." kataku takut, kemudian kembali lagi aku menangis. Wanita ini langsung berlari menuju kamar, mendobrak. Jantungku seperti terpukul, seiring dgn rasa sakit pintu yg didobrak badan wanita itu, bersikeras merusak pintu. "Mamaaaaah" teriak wanita itu gemetar dan tangis yg membanjiri wajahnya...
***
Aku tak henti2nya membaca Alquran, menghatamkan untuk kepergian ibu. Bersama 3 guru homescholing di rumah yg begitu besar, atap yg indah, bohlam2 yg terang, ubin granat yg besar, dan banyak kamarnya. Aku mendapat tumpangan dikamar depan, kamar tamu katanya "biar syahla tidur di kamar tamu" ucap mem inggrit yg mengajar fisika, kimia, dan bahasa indonesia. Dia begitu anggun nan menawan, anak tertua mungkin. Orang2 berdatangan dan berlalu, memberi belasungkawa, yg lain membantu menghatamkan Alquran.
Hari ke empat stelah kematian ibu, aku diajak kesebuah ruangan keluarga, bersama pria berdasi rapih membawa beberapa dokumen yg ditentengnya oleh tangan sebelah kiri, tentu saja dia bukan salah satu anak ibu dan bukan salah satu orang yg ada di album keluarga atau foto keluarga raksaaa yg tergantung disetiap sisi ruangan, dengan bingkai raksasa juga. Sepertinya dia akan berbicara "ekhem.. surat warisan," matanya beralih menatapku "harta yang dmiliki ibu maya sarawati adalah bakery store, cave hardbakery, rumah ini senilai 8M dan rumah kotak senilai 200jt," dia kembali mengeluarkan dahak "ekhem" kemudian menatap sekeliling, aku juga menatap satu persatu guru homeschoolingku, menatap canggung "aku hanya belum terbiasa" batinku sambil mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Aku pecaya itu mampu menghilangkan gugup. Ser Billi tersenyum, seakan ingin menghilangkan kekhawatiranku. Seakan kita sedang bernyayi "we'll be alright" bersama di sini, menunjuk dada. Yaaa.. Seperti saat sebelumnya, seperti setiap hari jumat dia datang mengajarkanku bahasa inggris atau hari sabtu untuk pelajaran matematika dan sejarah. Kadang kami gunakan untuk bernyanyi dan mendengarkan cerita film2 yg baru saja dia tonton, kedengarannya seru dari pada harus mendengarkan cerita terbentuknya monumen nasional, Organisasi VOC ASEAN, peperangan diindonesia. 
"Bakery store di pimpin oleh Ingrit, cave hardbakery oleh Rhisa, rumah senilai 8M oleh Billy dan rumah kotak untuk Syahla" pria itu melanjutkan. Aku masih syok untuk tau ternyata smua guru homeschoolingku adalah anak ibu, bahkan aku baru tau ibu bernama Maya, sekarang pria itu membuatku tambah kepayangan.
***
Hari2 berlalu, aku kembali kerumah kotak diantar oleh Ser Billy, pria yang tumbuh bersamaku. Mungkin dia berumur 26th, "Hey, punya planing untuk tinggal bersamaku dirumah seberang saja?" Pria ini memang selalu mengalihkan perhatianku. Dari cara bicaranya, dan caranya menceritakan sesuatu sangat cocok untuk menjadi sejarawan.
"Aku menyayangimu ser" sayangnya kalimat itu tak dapat ku katakan, tersangkut di tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala. "Kalau begitu aku akan tinggal disini," Dia menatapku tajam, seakan serius akan ucapannya. Aku gugup, jantungku berhenti berdetak, kalimat itu seakan menjadi pembicaraan yang canggung. Aku tak begitu pandai berbicara, mungkin hatiku telah bisu, mungkin terbiasa diam melenyapkan harapan, menghancurkan mimpi. Aku masih terbiasa dengan jam 3, ada aktivitas disana, memegang suntik, kapas, alkohol, dan insulin. Mungkin ini caraku melenyapkan pembicaraan tadu. Aku terbiasa bernyanyi, menandakan aku masih bernafas. "Sekarang, aku akan mengubah kebiasaan itu" katanya, mengambil ibat-obatan itu dari tanganku dan mengepack semua perlengkapan ibu untuk dibuang "maukah kau membantuku membuang kenangan? dan membentuk kebiasaan baru bersamaku?" aku hanya mengangguk, itu cukup. "Apa aku sudah menjadi anak yg baik untuk ibu?" Akhirnya aku bicara. Kurasa kalimat itu mengalihkan pandangannya "Kamu sudah berikan yang terbaik untuk Ibu, sekarang belajarlah menjadi istri yang baik". Aku ingat dulu ketika aku menerima ijazah SD dia berkata hal yang mirip dengan itu "kamu harus berikan yg terbaik untuk ibu, dan belajar menjadi pacarku yg baik" menggenggam tanganku yg masih mungil kemudian menciumnya. Satu kalimat itu melenyapkan kesedihanku, dan menyelimutinya dengan harapan masadepan yg cerah, dengan lukisan senyuman.
"Besok kamu akan ku ajak melihat dunia" katanya, mengakhiri cerita kesunyian.


READ MORE - CERPEN : SYAHLA

CERPEN : Gk Suka Perceraian

"Cinderela yg kehilangan cepatu kacanya akhirnya menikah dan hidup  bahagia dgn sang pangeran. Itu yg mereka percaya, sebenarnya tak ada kisah yg bahagia setelah menikah. cinderela terlalu takut mengexpose khidupan stelah pernikahan mereka. Pangeran kini menjadi raja dan di perbolehkan poligami, jadi dia memiliki istri 4 disetiap bagian istananya yg besar. Bagian utara istri mudanya berumur 15thn, mereka baru saja menikah 2minggu yg lalu, namun perutnya sudah membuncit seperti berumur 6bulan. Bagian Timur istana ada istri ke 2nya berumur 17thn, yg sedang repot menyusui anaknya yg kembar. Bagian barat ada istri ke 3 berumur 20thn yg sedang mengepak barangnya, dia ingin pergi menceraikan Raja. Mungkin tak tahan karena Raja jarang mengunjunginya, mungkin dia akan menikah dgn sang petani mantan pacarnya yg masih sering mengSMSnya dan hidup bahagia di desa, tapi si petani akan poligami stelah 10thn pernikahannya karena panennya yg banyak dan menjadi kaya. sudah ku bilang tak ada yg bahagia setelah pernikahan. Lalu Cinderela sendiri di istana bagian Selatan, sedang menangis karena tidak dikaruniai anak." kemarin gadis ini bercerita ttg kisah perceraian beauty and beast. Dia merasa perlu meyakinkan Sahabatnya untuk tak percaya akan kisah yg indah pada waktunya.

"Kamu sepertinya trauma akan pernikahan cell, pernikahan orang tuaku berjalan baik. Mereka hidup rukun, akur, tentram dan damai bersama kami anak2nya. kamu tak perlu pikirkan kakakmu yg menjanda, ibu dan ayahmu, pamanmu yg telah menduda 3kali dan kluargamu yg lainnya yg meskipun smua tak ada yg berhasil dalam pernikahan mereka" Dengan percaya dirinya marcello.
***

Beberapa bulan kemudian "sudahlah Cello, sudah ku bilang tak ada yg indah setelah pernikahan." gadis ini tersenyum, tersenyum menghibur, dalam lubuknya dia tersenyum menang. "mungkin aku jahat telah tersenyum ketika sahabatku sedih, tapi aku sudah seribukali meyakinkannya agar tidak percaya. Aku melakukan semua ini agar dia selalu siap dgn apa yg akan dihadapinya, aku ingin dia tidak merasakan kiamat seperti apa yg aku rasa meskipun sekarang orangtuanya baru saja bercerai." batin gadis ini.

"Itukah sebabnya kamu tak pernah berpacaran?" marsello memalingkan wajahnya dari langit, menatap dalam kedua bola mata gadis ini. Dia penasaran apa yg membuat gadis ini begitu rapuh, begitu yakin tak ada yg indah pada waktunya. "i think so" jawabnya lantang. Suasanya menjadi canggung, bintang-bintang sekejap sirnah yg tadinya indah berhamburan. Awan gelap tak begitu jelas karena malam menyamarkan hitamnya. Mereka berdua sering melakukan ritual ini setiap Marsello putus cinta, setiap Marsello ditinggal bosan gadis2 yg pernah mengejarnya. Menceritakan suka dukanya kepada Cella dan cella akan menceritakan dongeng after weding versinya. Seperti kisah cinderela diatas.

Ritual curhat2an ini telah terjadi selama bertahun-tahun di atap rumah Marsello, kadang di taman rumah Cella jika rumput2 jepang tak berembun basah oleh udara dingin yg merenggut sore. Cella bangun dan duduk dari perbaringannya diatas tikar bergambar telletubis, yg tergeletak diatas beton tebal atap rumah cello. "sepertinya akan hujan" ujar gadis ini. "apa kamu tidak percaya cinta?" tanya sahabatnya lagi, masih berbaring menikmati angin2 yg diciptakan malam. "tidak...!" raut gadis ini berubah datar. "Tidak adakah Pria di kampus yg membuatmu jatuh cinta?" pria ini memberanjakan tubuhnya dari tikar, duduk sangat dekat dgn sahabatnya yg sedang mengangkat dagunya menatap langit. "pertanyaan macam apa itu?" batin gadis itu lagi. Jantungnya jadi berdebar, suhu badannya memanas mengalahkan udara dingin yg meniup2 tubuh mereka. Gelengan kepala dia rasa cukup untuk menjawab pertanyaan pria ini, yg sudah bertetangga dgnnya sejak lahir. Gelengan kepala itu berakhir dengan tatapan marahnya, dia menutupi gugupnya. "Aku suka kalau kamu marah, kamu terlihat cantik" cella berhenti menatap, "bagaimana caranya menutupi senyuman?"ujar gadis ini dalam hati.

Cello mengkerutkan dahinya "kalo aku ngomong, liat dong mataku" sejenak suasana hening. Gadis ini tak ingin memalingkan wajahnya yg disembunyikan oleh rambutnya yg panjang dan tebal, dia masih ingin menyembunyikan senyumannya. Tangan yg halus menghampiri dagu gadis ini, membuat rambutnya jatuh terurai, membawa rautnya berhadapan dengan wajahnya yg rupawan, mengecup bibir mungil yg belum tersentuh oleh bibir pria lain. Gadis ini meneteskan air mata yg mengalir di pipi kanannya. Jantungnya yg sedaritadi bedetak laju, berhenti seakan mati. Seluruh badannya menjadi kaku. "Sudah lama aku ingin melakukan itu agar hatimu mencair... aku ingin mengajarkanmu apa rasanya cinta. Tapi kamu selalu meyakinkanku bahwa cinta itu sangat pahit bagimu... Apa persahabatan kita selama ini begitu pahit bagimu?" setetes air mata tadi telah kering, meninggalkan bekas. Wajahnya masih menunjukan kekokohan hati, dendam, memancarkan amarah yg disimpannya, dia seperti bisu. Bahkan bisu tidak sama sepertinya. Kemana suara Cella yg selalu menentang dunia?

"Bagaimana kalau ternyata aku begini karena cemburu?" akhirnya kalimat keluar dari mulut gadis ini. Kali ini Marsello terlihat bingung "jelaskan" jawab marcello singkat. "Bagaimana kalau ternyata aku menentang cinta karena cemburu kepada mu? cemburu kepada pacar2 mu?! Aku hanya ingin meyakinkanmu cinta itu pahit agar kamu berhenti bersenang2 dgn gadis2 itu berhenti mencintai orang lain selain aku. Iya, persahabatan kita sangat pahit, karna aku terlalu lama diselimuti cemburu oleh cerita2 cinta mu  itu". Gadis ini gemetar, emosinya menusuk jantung yg memompa darah dgn cepat keseluruh tubuhnya. Pria ini membisu, dia tak tau apa yg harus dikatakannya "ternyata sahabatku begini karena aku?" batinnya, disisi lain dia tak mengerti mengapa ini terjadi kpd sahabatnya.


Cella berdiri meninggalkan pria yg telah membekukan hatinya "hatiku telah mengkristal dan terlapisi oleh baja, tak akan tembus oleh kecupan kecilmu itu" ucapnya sambil berlalu. Kecupan itu membuatnya confused, entah harus senang, atau marah. "jika kamu menyukaiku, mengapa harus mengeras seperti batu? Mengapa harus meninggalkanku?" hujan benar2 turun, pria ini berlari mengejar Cella yg sudah lebih dulu masuk kerumah. "aku tidak pernah meninggalkanmu, jika hatiku tak mengeras, seberapa kuatnya aku bertahan menahan sakit karna cemburu? aku masuk karena hujan, aku hanya tak mau repot hujan2an karna pembicaraan konyol ini." Gadis ini terus berjalan dgn cepat menjauhi sahabatnya. "hey, baiklah besok kamu akan aku nikahi, berhentilah berjalan cepat, aku minta maaf." cella menghentikan jalannya, "apa nanty kita akan bercerai?" sambil berbalik menghadap sahabatnya, notasi suara yg tadinya tinggi berubah 90° manja, seakan dia menyetujui ajakan pernikahan pria itu. "semua kemungkinan bisa terjadi kan?" jawab cello yg masih tetengah-engah. "kalau begitu aku tidak akan menikah...!" cella kemudian berlari keluar rumah "mamah cello, cella pulang ya.." sapa gadis itu singkat sambil berlalu dan membanting pintu rumah. "huh dasar gadis keras kepala, ternyata dia masih takut akan perceraian" guman Marsello sambil tersenyum. "kalau begitu, kamu harus berusaha lebih keras meyakinkannya, tdak akan pernah ada perrceraian dgn mu" celetuk mamah marcello yg asik membaca majalah diruang tamu. Senyuman terlukis diwajah pria itu "nikah aja belum! mah... mah"...
READ MORE - CERPEN : Gk Suka Perceraian

21 Jul 2013

CERPEN : Cewek Metropolitan???

Matahari sudah tinggi, cahayanya memaksa masuk lewat cela-cela jendela yg ditutup horden berjaring-jaring, motif sarang laba-laba. Gadis ini enggan membuka matanya sejak sekitar dua jam yang lalu alaram berbunyi, tentu saja sudah dimatikan olehnya saat pertama dia berdering. Lampu2 malam Jakarta membuatnya pulang terlalu pagi, dia lupa hari ini adalah hari penting baginya. Hari pertama bekerja di sebuah perusahaan dealer mobil terbesar dijakarta. Masih training, dia belum resmi menjadi kariyawan. Handphone yg sedari tadi bergetar, di abaikannya. Apa yang membuat dia meloncat dari tempat tidurnya? Tiba-tiba gadis ini melototkan matanya dan meloncat dari kasur tempat tidurnya yang hanya digeletakkan begitu saja di lantai kamar kost. Menyambar deodorant, dan kemeja putih yg tergantung rapih di belakang pintu, sudah dipersiapkan sejak kemarin olehnya. Dia tidur bersama rok hitam pendek berbahan katun polister yang belum diganti sejak kemarin dia menjalani psikotes, interview, dan tanda tangan kontrak sebagai anggota training. Kemudian dia pergi makan malam, nonton, dan menghabiskan saat gelap itu di tempat yang mereka sebut diskotik. Bersama pria yang meloloskannya ke pekerjaan itu, nice guy? Entahlah…
60km/jam membuatnya sampai tepat pukul 10.35 sejak keberangkatannya sepuluh menit yang lalu. Tangannya tergesah-gesa membuka permen penyegar mulut dan melahapnya seperti orang rakus. Tentu saja dia tidak mandi dan menyikat gigi, permen itu pikirnya bisa membantunya keluar dari masalah bau mulut. Sambil berlari menuju lift dan memaksa mengangkat dagu melihat layar merah yang bertuliskan angka tepat diatas pintu lift, untuk mengetahui berapa lama lagi dia harus menunggu benda itu menjempunya. Sambil merapihkan rambut, kemudian merapihkan kemeja, dan menyeka-nyeka kelopak matanya dengan kedua tangannya, menyapu pipi. Berharap wajahnya tidak lebam terlihat baru saja bangun. Tak perlu makeup, gadis ini wajahnya masih seperti baby, bahkan urat2 halus berwarna merah dipipi tergambar jelas betapa bening kulitnya.
Lift sudah mengantarnya ke lantai 4, peserta training hanya 2 orang, dia dan pria yang mungkin umurnya dibawah 2 tahun dari padanya, atau memang iya. Wajahnya begitu kekanak-kanakan. “hey, dimana pak Brian?” gadis itu menghampiri pria itu yang duduk rapih didepan ruangan pak Brian. “katanya tadi dia mau ke toilet, sekitar 2 jam yang lalu,” sahut pria itu agak kesal “dia membuat ku menunggu disini sendiri. Perkenalkan, namaku Setio,” sambil mengulurkan tangannya. Gadis ini menatapnya tajam sejenak, seperti familiar wajahnya. Sambil mengatur nafas karena jantungnya yang masih berdetak ketakutan terlambat mengikuti training. “Via, hufttt..” menghela nafas “yang sabar yah,” handphonenya bergetar lagi untuk yang kesekian kali sedari pagi. “sebentar,” ucap gadis itu lagi ingin menjawab telpon. “iya pak, saya sudah diatas.” Kini Setio tau kepada siapa dia harus melampiaskan kesalnya karena telah menunggu lama. Sayang sekali pria ini begitu sangat sabar dan melupakan kekesalannya. Tidak lama setelah itu, pria yang telah berkepala 3 menghampiri, “maaf sudah membuat kalian menunggu lama,” sambil tersenyum. Via membalas senyuman tersebut seakan menyimpan sesuatu yang lucu, tapi tidak dengan Setio yang kekeh dengan wajah badmoodnya.
Waktu kerja terasa cepat, bagaimana tidak? Mereka memulai pekerjaannya setelah jam makan siang. Pak Brian yang tidak berhenti berbicara sedari tadi menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan, memberi tahu file-file yang mereka butuhkan, wajahnya kini terpapar rasa senang dengan sedikit senyuman, memiliki sebuah arti yang disembunyikan disetiap tatapannya pada via. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, mungkin dia membayangkan malam kemarin yang dia habiskan bersama Via, mengunjungi tempat2 wisata dan kuliner malam. Pak Brian meninggalkan mereka, pergi menuju ruangannya untuk bersiap pulang.
“hey, berhentilah cemberut… bukannya kita harus bekerjasama disini? Kalo kamu musuhin aku, siapa yang akan bekerjasama denganku?” senyuman Via menggambarkan permohonan maafnya. “ya, aku memakluminya gadis desa Rashiva Kristi” tidak menanggapi aneh kalau pria ini tau nama dan asalnya, Dia menganggap kalimat itu sebagai kalimat ejekan. Heandphonenya berdering lagi, “aku duluan ya..” berlari meninggalkan meja kerja dan setio. Menghampiri dia yang menunggu gadis jangkung ini untuk membawanya pergi, masih pria yang sama dengan yang kemarin.
**
“Tumben kamu tidak terlambat?!” sapaan pertama dipagi hari, ruang kantor lantai 12a tempat mereka bekerja mulai dipenuhi karyawan, officeboy yang mendorong-dorong meja seperti waiters hotel membawakan kopi dan tea pesanan masing-masing meja karyawan belum juga kelar dibagikan, begitu pula dokumen-dokumen yang masih rapih diatas meja para karyawan. Via menghiraukan “semalam jalan2 kemana? Gk jalan-jalan ya? Langsung tidur?” gadis ini seperti kebal, focus menatap LCD yang baru dinyalakan. WINDOWS – hanya itu yang tergambar bersama buffer computer yang bergulir sangat lambat. “hey… gadis desa” colek Setio di punggung gadis ini yang duduk membelakanginya. “selamat pagi semua…” serentak berdiri para kariawan yang masih bermalas-malasan menghilangkan suntuk dan cerita dalam mimpi2 yang mulai pudar. Sapa manajer yang berperan sebagai pak Brian, pria yang sudah 2 hari ini hangout dengan Via, menghabiskan malam diluar jalan-jalan jakarta dan sebuah alasan lembur yang begitu simple diberikan untuk keluarganya yang berharap dia tidak lagi pulang terlalu malam. “selamat pagi paaaaak…” suara Via paling keras diantara gelombang2 suara yang lain, mengalihkan seluruh kariawan menatapnya. Setio tertunduk malu karena gadis itu berdiri didekatnya, dia merasa ditonton seperti pelaku pencuri. Via tersenyum geli merasa telah membalas pertanyaan2 menyebalkan yang dilontarkan pria itu. “urus saja pekerjaan mu” bisik Via masih dengan senyum kemenangan.
Waktu terasa sangat panjang, udara AC tidak lagi terasa dingin bagi pria ini. Wajahnya kusam penuh minyak disekujur pipi, dagu, hidung dan jidatnya. “Hari kedua ini begitu menyebalkan” gumamnya menoleh meja disampingnya yang tak berpenghuni. Detik dan detak dapat dihitungnya karena berjalan perlahan melenggak-lenggok di kepalanya yang penat. Hingga pukul 16.25 dijalani dengan penuh kesabaran, membongkar2 dokumen yang sebenarnya telah di koreksinya berulang kali. Beberapa kariawan mengganti kesibukukannya merapihkan meja dan isi tas yang berhamburan di meja. Namun pria yang bernama lengkap Setio Arkayudho ini masih tak ingin bergegas. Dia menunggu, menunggu gadis yang disebutnya gadis desa. “dorrr… serius banget” Penantiannya berakhir setelah dikageti Via “kemana ajah? Kerjaan numpuk tuh…” dengan nada ketusnya. “itu hanya copyan? Aku sudah mengerjakannya diruangannya pak brian” jawabnya sambil merapihkan meja. “kerja apa kerjaaa?! Hati2 sama bos-bos Jakarta” pria ini berbicara menatap camas Via yang sibuk tak memperdulikannya. Gadis ini menoleh mengangkat kening dan mengangkat kepala seperti setengah mengangguk seakan memperdulikan kecemasan dan perhatian setio, padahal tidak. Kemudian kembali merapihkan make up dan rambut tebalnya yang terikat, menguraikannya “I’m ready to the party,,, I wanna be metropolitan girl” ledek gadis itu berteriak dengan excitingnya “upsss” dan berlalu meninggalkan setio.
Dua minggu berlalu dengan cepat bagi sii gadis desa. Wajah yang lusuh, bundaran hitam dibawah mata tertutup oleh tebalnya foundation dan taburan bedak. Masih saja pria ini memanggilnya “gadis desa”, membuat gadis itu kesal. Namun Via adalah orang yang dapat mengontol emosinya, diam adalah senjata ampuhnya. Dia beranggapan dengan tidak memperdulikan akan membuat orang-orang yang mengejeknya kesal sendiri. Hanya hela-an nafas panjang yang meringankan ulunya yang sesak karena merasa di rendahkan. Itu bertahan sampai beberapa minggu yang telah berlalu selama mereka bekerja. “Satrio hanya mencari perhatian” batinnya.
Tak – tuk – tak – tuk – suara heels yang asing melangkah menuju meja kerja Via. “kamu Via?” wanita ini membuat ruangan hening. Pakaiannya yang minim menutupi usianya yang mungkin telah beranak 4. Caranya berdiri, membentak, menatap begitu anggun. Sebagian kariawan mengenalnya, mereka yang berbisik-bisik adalah kariawan lama yang sudah mengenal wanita ini. Namun Via, dia sama sekali belum pernah melihat wanita berusia mungkin 40 seperti dia yang berpakaian dan berpenampilan seanggun itu kecuali di TV, sinetron Indonesia atau telenovela yang terdapat di satu chanel tv kabel ketika dikampung. “iya bu,” jawab Via tegas kemudaian berdiri dari tempat dia bersandar, kursi beroda dengan anggunnya perlahan menutupi gugupnya. Via menatap Setio yang malah ikutan berdiri dan terlihat sangat shok. Setio sudah menduga sebelumnya bahwa ini adalah istri pak brian, dia bahkan sangat yakin. Kejadian ini telah diprediksinya sejak dua hari mereka bekerja. Pak brian hampir tiap hari tak langsung pulang kerumah, alasan apa yang membuat istri tak curiga jika hampir dua minggu pulang terlalu malam? Setio seakan kesal, marah, karena harus ada kejadian seperti ini menimpa gadis desa itu. Mungkin karena gadis desa itu tidak pernah mendengar nasehatnya. Seharusnya dia mempertegas siapa yang harus di waspadai, bukan bos prianya melainkan istri-istrinya yang bengis itu.
Wanita itu mengeluarkan amplop tebal, sangat tebal mungkin berisi sejumlah uang yang besar, mampu membayar setahun rumah kontrakan 2 kamar pikir Via. “ambil ini! Berikan kepada temanmu tamara, bilang kepadanya berhenti mendekati Brian, atau kamu saya bikin keluar dari sini” tegasnya. Kemudian berlalu masih dengan nada heels yang melayang-layang mengikuti jarak kakinya melangkah.
“siapa Tamara?” pertanyaan pertama yang dilontarkan Setio, disisi lain dia legah, bukan gadis desa ini yang terlibat langsung dengan wanita itu ataupun pa Brian. Via dengan santai mengambil bungkusan amplop yang dia lempar dimeja begitu saja, seakan tangannya tak mau kotor tersentuh oleh tangan gadis ini. “temen dari tempat yang lo sebut desa,” tersenyum menatap isi amplop kemudia merubah raut wajahnya menjadi super jutek menatap sekeliling kariawan yang masih berbisik-bisik membicarakannya. Mereka seakan segan pada gadis desa yang bahkan belum resmi menjadi karyawan ini, membungkuk dan kembali pada pekerjaan mereka, melupakan yang baru saja terjadi dan yang lainnya tidak menghiraukan kejadian tadi. Mungkin akan menjadikan bahan gosip saat di luar kantor.
“Tamara sahabatmu?” Tanya pria itu lagi penasaran. Via terkejut mendengar pertanyaan itu, bagaimana tidak? Dia tau siapa Tamara itu, “sejak awal, kamu sudah menarik perhatian ku,” ucap gadis itu lantang, wajah yang familiar “ternyata feeling ku benar” mencubit pipi pria itu dengan tenaga kegemasannya sama seperti dulu mereka pacaran. “enam tahun gk ketemu, ternyata kamu lebih nakal yah? Berani bermain api dengan keluarga orang kaya itu” omel brondong 2 tahun itu, mantannya. “ya… kalau tidak begitu bagaimana aku bisa hidup dijakarta?” sahut Via lantang. “itu yang kamu sebut gadis metropolitan?”
READ MORE - CERPEN : Cewek Metropolitan???