Get Money

 

6 Sep 2012

CERPEN : Nanda dan Senyumnya

“Ka’ kamu mau kemana?” sambil menahan tangis yang dia pendam didalam hati. Pria yang sedang berjalan menjauhi gadis yang dia sakiti ini, memutar sedikit pandangannya menilik gadis yang dulu pernah dia cintai. “Kakakan udah bilang, Nanda sekolah aja dulu yang bener jangan pacaran dulu kakak pasti bakalan nikahin Nanda” kemudian dia memalingkan tatapannya seakan dia tau bahwa Nanda akan baik-baik saja. Gadis yang selama tiga tahun ini dirangkul dengan cinta kasihnya di campakkan begitu saja bukan karena alasan yang tepat. Pria ini begitu capat hilang dari pandangan Nanda, Nanda yang tak kuasa menahan pedihnya memaksakan diri untuk mengejar.
Entah apa yang ada didalam benaknya, pikirannya kacaw seakan tak dapat dia kendalikan. Rasanya ingin mencabik-cabik dirinya sendiri dengan segenggam pisaw di tangan kanannya. Kemudian seorang adik kecil datang menghampirinya “ka Nanda kok nangis?” Nanda kemudian tak kuasa menahan jeritan tangisnya yang sedari tadi terbungkam oleh rasa pedih. Bukan menjerit tangis karna pria yang meninggalkannya, tapi karna dirinya yang hampir saja mencelakan dan menyakiti diri sendiri tanpa memikirkan keluarga yang masih mencintainya. Sejenak dia memeluk adiknya “ka’ nanda kangen tau sama cici, kita kan udah gk pernah main bareng” sambil mengusap pipi cici yang celemotan sepulang dari Sekolah Dasarnya. “kita mau main apa?” Tanya Nanda yang bergegas berdiri dan menuju kamar Cici. “cici mau nonton Film Barbie aja ka’ mau gk?” dengan notasi suara cici yang polos, Nanda hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
Sejenak Nanda sempat melupakan apa yang baru saja dia alami, namun entah apa yang ada didalam film itu yang membuat Nanda mendapatkan sebuah ide untuk mendapatkan ka’ Yuka kembali. Wajah dan matanya mengawasi sekeliling tempat tidur cici, mencari ponsel kemudian bergegas keluar dari kamar. “ka’ Nanda mau kemana?” teriak cici yang sedari tadi asik nonton, berlari dan mengejar Nanda. “cici nonton aja dulu, kakak lagi mau nelpon”.
Dengan tangan yang gemeteran, dia menekan beberapa angka sebuah nomer telpon. Dia memikirkan apa yang harus dikatakan kepada ka Yuka, yang ada didalam benaknya “kakak, kamu gk boleh ninggalin aku begitu saja sejak kejadian dimalam itu, aku telat ka’ aku hamil” kemudian dia menghapus angka yang ditulisnya tadi. Pikirannya mulai pesimis akan kalimat dalam ide yang baru saja terbesit dalam pikirannya. Karna dimalam itu saat perpisahan yang diadakan dipuncak memang tidak terjadi apapun yang akan membuat Nanda hamil, maka itu akan sia-sia bahkan akan menimbulkan kekacauan yang lebih parah lagi. Kemudian dia menekan beberapa angka lagi, bukan angka yang sama dengan tadi. “Ver, kamu dimana?” nada suaranya terdengar bergetar karna menangis. “kamu kenapa Nan?” jawabku sahabat Nanda yang mulai khawatir mendengar suaranya.
Tak lama kemudian aku menghampiri Nanda dirumahnya “Assalamualaikum” sahutku sebelum memasuki rumah. Terlihat Nanda yang berlari menghampiriku dan melompat memelukku meluapkan tangisnya dibahuku. “kenapa sih Nan?” pertanyaan umum itulah yang keluar dari mulutku. “aku diputusin sama Yukaaaaa” kalimat itu tidak jelas diucapkannya karna sambil menangis. Dengan samar-samar “apa? Kamu diputusin? Kenapa?” ekspresi kagetku melepaskan pelukannya. Hanya ada gelengan kepala menandakan bahwa semuanya terjadi tanpa sebab dan tanpa alasan. “tapi dia berjanji akan kembali dan menikahi ku, mungkin dia butuh waktu untuk menjalani masa mudanya tanpaku” dia mencoba menenangkanku. “yasudah, ayo siap-siap sana” sambil menatap Nanda yang mulai bingung akan pernyataanku tadi. “kemana?” jawabnya sambil berlari menjauh dariku, kulihat tangannya menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. “nyari pacar baru buat kamu” teriakku agar terdengar oleh Nanda yang sudah mulai jauh menuju kamarnya. Aku berjalan menuju kamar cici yang tak jauh dari ruang tamu. “hai cici, seru ya filmnya?” sapaku ramah. “ka Ver, tadi ka Nanda nangis didapur setelah ka’ Yuka pulang. Emang kakak Yuka mutusin Ka’ Nanda ya?” ucap cici gadis kecil berumur 10 tahun , yang bisa membaca situasi. “mmm mau ta aja deh cici…” sambil mengacak-acak rambutnya aku bergegas keluar kamar menghampiri kamar Nanda. “cepetan” teriakku ketus. “ia-iia ini udah kok” jawab Nanda pelan.
“nih, nama cowonya Rafli. Seumuran sih sama kita, tapi dia masih kelas 2 SMA.” Ucapku sambil menunjukan sebuah foto kepada Nanda yang sedari tadi diam dan lesuh sepertinya tidak tertarik. “kenapa dia gak naik kelas?” tanyanya mencoba menghargaiku. “kenapa kamu gk cari tau sendiri?” tanyaku menjawab pertanyaannya, hanya ingin membuat dia penasaran. Anggukan kepalanya seakan ingin mencari tau, namun aku bisa membaca matanya bahwa dia belum bisa menerima apa yang terjadi padanya tadi.
Dalam sebuah pesan singkat SMS, aku mengajak Rafli menghampiri kami, sudah lama Rafli memintaku mencarikannya pacar. “kenalin, ni Nanda” tanganku sambil menunjuk ke nanda “dan Nanda ini Rafli” sambil menunjuk keRafli. Terlihat tatapan mereka mulai akrab, karna Rafli dan Nanda adalah tipe orang yang senang bergaul. Meskipun aku bahkan masih belum yakin apakah Nanda akan merespon Rafli. “eh, aku kesana dulu ya” ku biarkan mereka berduaan dan aku pulang dari taman kota tempat aku dan Nanda biasa berbagi cerita.
“aku lapar nih, makan yuk?” ajak Rafli yang membuka pembicaraan. “mm ok.” Sambil mengangguk menandakan Nandapun ingin makan. Nanda bukannya ingin makan, hanya saja aku pulang membawa motor sehingga dia harus mengikuti Rafli yang siap memboncengnya kemanapun dia mau. Aku yakin Nanda gk akan mau pulang dengan jalan kaki!
Sejak aku pulang dari taman kota sekitar jam 2 siang tadi, aku tak mendapatkan kabar dari kedua temanku ini yang sedang PDKT(pendekatan). Sekarang pukul 10 malam, dan aku pergi memastikan kerumah Nanda apakah dia sudah pulang apa belum, yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumahku. Karna aku mendapatkan feeling bahwa Nanda belum saja pulang, maka aku hanya duduk saja di depan teras rumah Nanda. Sebenarnya bukan feeling, tapi aku melirik beberapa sandal didepan pintu, dan disana tak ada sandal Nanda.
Angin malam yang berhembus menampar-nampar wajahku membuat aku mengantuk dan memejamkan mata. “ayoooo lagi apa ya malem-malem disini..” teriak Nanda yang baru saja pulang menghampiriku. “Rafli mana?” hanya itu yang keluar dari mulutku sambil mengangkat daguku memandang kedepan jalan mencari sesosok Rafli. “udah pulang kok, dia gk mampir katanya sekarang udah jam 10 gk baik cowok main kerumah malam-malam begini”. Ceramah Nanda dengan nada yang ceria seakan kejadian tadi pagi takpernah ada. Aku bisa membaca mimic wajahnya yang ceria menerangi malam saat berada diteras rumahnya. Dan aku hanya mengangguk mengiakan seluruh ucapannya dengan sedikit senyuman. “yaudah kalo gitu, aku pulang ah” sambil melangkah pergi. “tunggu dulu, aku kan mau cerita Ver” teriak Nanda. “besok aja besok… lagian aku udah tau kok hahaha” aku tidak tau apa yang terjadi saat dia bersama Rafli yang aku tau dia telah melupakan sesosok Yuka yang selama ini dia damba-dambakan.
READ MORE - CERPEN : Nanda dan Senyumnya

26 Jun 2012

CERPEN : Catatan janji-janjimu

Terkadang aku ragu untuk tak bisa tanpamu,
namun ragamu seperti tak membutuhkanku lagi. 
Aku menyediakan sebuah buku yg bisa kau baca,
buku yg penuh terisi tentang bukti kebersaan kita.
Kemudian akan terkubur bersama kenangan tentang mu.
Aku menulisnya disaat aku bahagia bersamamu,
saat kita berbeda pendapat, berselisih, dan
disaat aku tak bisa lepaskan ragamu dari pelukku.
Dulu Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kau selalu disisiku. 
Kini aku merubah lantunan doaku kepada Tuhan untuk bisa iklas melepasmu. 
Kamu pernah berkata "aku akan baik-baik saja jika kamu tak meninggalkanku, begitupun aku ygkan selalu setia menjagamu, dan memeluk hangatnya tubuhmu selamanya" yg kamu ucapkan adalah dusta bagiku, kamu kini tak bisa menjagaku, karna kamu mengingkar janjimu untuk selalu disisiku.
Semua rasaku padamu berubah menjadi sebukit benci yg tak dapat kau obati. 
Karena begitu banyak ucapanmu yang tak kau tepati "kamu akan selalu bisa merasakan belaianku disaat kamu tertidur" ucapnya sambil mengelus2 rambutku untuk mengantar tidurku, suaranya yg lembut membuatku tersenyum manis. " benarkah? Apakah inikan selamanya?" Aku membuka pejaman mataku dengan prlahan sambil menatap penuh harapan. 
Anggukannya membuatku bermimpi indah saat malam itu. Kemudian aku tersadar bahwa harapan selamanya itu adalah palsu. 
Kamu begitu tega membiarkan aku berusaha hidup sendiri, tanpamu, yg begitu saja melenyapkan jiwa dengan kepergianmu. 
Kamu seperti tak memikirkan perasaanku, kurangkah cinta yg aku berikan padamu hingga kau pergi? Tak cukupkah semua yg aku berikan padamu hingga kau sia-siakan? 
Cintaku padamu membuat berbukit-bukit benci lenyap dengan bertetes2 tangisan yg keluar sejak kematian mu.
ya, karsinoma Hepatocellular membawa ragamu pergi meninggalkanku, penyakit hati ini membuatku tak lagi bisa merasakan hangatnya rangkulan cinta kasih mu. Lenyap bersama janji-janji yang tak kau tepati, ku tau satu janjimu yang tak pernah kau ingkari “aku akan mencintaimu sampai aku mati” ucapan dari bibirnya itu sambil memelukku dalam malam aku menjaganya di Intensive Care Unit (ICU). Lalu aku merasakan nafas yang terhenti dan aku tau bahwa itu adalah ucapan manis terakhir yang aku dengar.
Sungguh, suaranya dan janji terakhirnya tak akan aku lupakan.

READ MORE - CERPEN : Catatan janji-janjimu

21 Jun 2012

CERPEN : Berteman Lebih Baik


Aku menatap sahabatku dengan penuh seksama, dia bercerita dengan sangat antusiasnya “lihat, isi percakapan kita di message. Dia mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya hubungannya dengan Erick, apa gossip tentang mereka pacaran itu benar ya?” sangat excited dia membicarakan tentang cinta pertamanya itu padaku. “kalo di ruang rapat osis mereka gak kelihatan dekat kok Harley Sparkler” aku menekankan notasi nadaku di bagian nama kemudian melengkapinya agar terdengar sempurna menggambarkan kekesalanku padanya. Aku menyukai pria ini, pria yang selalu menceritakan masalahnya dengan cinta pertamanya. Selama empat bulan kami berteman, dia telah 3x balikan dan 4x putus. Owh betapa panasnya hatiku setiap dia bercerita mengenai messagenya itu, everyday…
“ihh iia Gween, Gween Siller” sambil mencubit-cubit pinggangku “aww sakit, haha sakit” dengan menjambak rambut aku berharap dia melepaskan kedua cubitannya di pinggangku. Itulah cara kami bercanda. Kelasnya bersebelahan dengan ku, kami akan bertemu setiap istirahat di depan perpustakaan. Berbagi cerita, canda, tawa, duka, everythink… aku baru mengenalnya selama empat bulan ini namun jika sehari saja aku tak bertemu dengannya rasanya seperti berada disekolah yg angker, kosong tanpa jiwa yg hidup hanya ada bayangan Harley dimataku. Well, aku ingat pertama kali aku mengenalnya.
Di sekolah saat hari pertama kenaikan kelas 2 tepatnya di Sekolah Menengah Atas aku melihat siswa yang tampan. Selangkah demi selangkah aku mendekati bayangan pria itu, raganya masih tak dapat aku kenali. Wajahnya begitu asing dan dermawan, aku bahkan tertarik padanya hanya dengan sekali menatapnya. Dia berada disekeliling teman-temanku, berbincang seakan sangat akrab bukan seperti siswa baru yang canggung. “hei, ca’” aku menegur salah satu temanku dan ikut bergabung berbincang bersama. “murit baru ya?” tanyaku. “udah lama Gween dari semester 2 kelas 1” sahut temanku yang lainnya. Dan bla-bla-bla…


Setiap keluar kelas kami berpapasan di depan perpustakaan, berkumpul bersama teman-teman yang lainnya. Kemudian dia mulai terbuka mengenai first love, oww exgirl friend maksudku dan kami mulai terbuka mengenai masalah pribadi. Sebenarnya aku tak seharusnya benci pada ketua osis sii Victoria, ya cinta pertamanya adalah ketua ossis *she’s tough rival aku hanya seorang coordinator Agama Muslim di osis * kemudian karna kisah Victoria yang membawaku menjadi sedekat ini dengannya.
Aku merasa bahwa Harley juga suka padaku, melalui sikapnya yang begitu perhatian, terbuka, pelukannya, rangkulannya, pegangan tangannya membuatku lebih jatuh kedalam bagian hatinya yang gelap. Tak setitikpun cahaya yang menerangiku, cahaya itu sekejap menghilang setiap dia membicarakan Victoria.
Suatu saat dia dekat dengan Salsa siswa baru, wanita yang kebetulan sekelas denganku. Diselang waktunya tanpa Victory aku tak menyangka jika ini akan terjadi, isu-isu sekelas menyebar begitu cepat dan ternyata benar. Hanya sekedar dekat, namun aku bisa merasakan rasa “cemburu” itu. Aku tidak hanya diam, akupun mendekati Nicko teman sekelasku. Bahkan tidak hanya sekedar dekat aku bahkan menerimanya menjadi pacarku. Akupun bingung mengapa aku bisa menerima pria yang baru saja semalaman SMS(short Message Service)an denganku. Mungkin karna rasa dendam dan ego yang masih besar atau karna pertumbuhan yang menyebabkan aku menjadi ABABIL(ABG Labil).
Seminggu menjalani hubungan dengan Nicko, dan seminggu juga aku tak keluar kelas menemui Harley. Aku terkadang mengintipinya dari jendela kelas yang duduk seorang diri memainkan Handphone. Sebenarnya hanya untuk memastikan keadaannya saja, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku merindukannya. Banyak teman-teman yang bertanya “hei, udah putus ya sama Harley” senang mendengar pertanyaan itu, tapi gossip itu membuat aku selalu terancam di rapat osis karna Vicktoria yang menatapku dengan tatapan yang sinis *memilukan*.
Biasanya aku dan dia akan bercanda mebuat kebisingan didepan perpustakaan, tapi kini hening, bahkan penjaga perpustakaan kini membuka pintunya lebar-lebar *karna bising pintunya sering ditutup*. Aku tak bisa menahan rasa rindu itu, aku menarik Nicko keluar dan bertemu dengan Harley. “hei, kemana aja sih? Gk kangen apa sama gw?” Harley menepuk lenganku, kemudian matanya terpusat pada tangan ku yang masih berpegangan tangan dengan Nicko. “assik deeh yang pacaran lupa sama kawan. Pantesan si Nicko ngeliatin gw sinis banget” sambung Harley menetralkan suasana yang entah itu suasana yang dingin atau panas. “hahaha enggalah.. gimana lo sama Salsa?” Tanya Nicko yang melepaskan kecanggungan kepada Harley. Nicko juga pernah sesekolahan menengah pertama dengan Harley namun tak satu kelas sehingga merekapun telah akrab sebelumnya, sebenarnya satu tim basket juga. Aaaaarrrghhhh.. mereka ternyata sangat dekat, itu membuat ku pusing.
Seminggu ini sikap Harley sangat aneh, entah apa yang ada didalam pikirannya. Dia lebih sering memelukku, dan merangkulku yang lebih tak terduga, dia mulai mengirim SMS padaku dengan sebuah pertanyaan yang simple “lagi apa?” tapi pesan singkat itu bisa membuatku loncat-loncat dikamar karna kegirangan. Tidak ada lagi cerita mengenai Victoria, aku merasa damai dengan situasi ini bersama Harley, penjaga perpustakaan kini meutup pintunya lagi. Namun Nicko? Ya aku memutuskan Nicko. Dia pria yang baik, setiap detik dia akan mengirim SMS dan menanyakan sesuatu yang bisa bernilai sangat menghawatirkanku. Sayang sekali, perhatiannya tidak menembus atmosfir cintaku pada Harley.
Setelah aku dan Nicko putus, hari-hari menjadi sangat aneh dan semuanya menjadi sangat membingungkan, selang beberapa pekan kemudian Nicko dan Salsa berpacaran, dan Harley sampai sekarang tidak menyatakan cinta padaku.
Lelah dan jenuh dengan semua ini, rasa dan pengharapanku kini memudar dengan senyuman iklas pada kedekatan kami yang bernilai hanya dekat bagi ku. Aku membuka hatiku lagi pada orang lain, dan dengan mudahnya aku mendapatkan pacar. Pria yang baik, perhatian, dan tulus mencintaiku. Dia bukan pria dari sekolah yang sama denganku, dia hanya teman dari pacarnya sahabatku.
Aku tak berani mengatakannya pada Harley, diselang itu waktu yang biasa ku berikan pada Harley kini kuberikan untuk Ramon pacar baruku. Harley kinipun jarang berada didepan perpustakaan, dia lebih sering berada didepan pintu kelas sambil memainkan handphonenya. Disiang itu, aku ingin menceritakannya pada Harley dengan hati yang was-was aku memberanikan diri menghampirinya. “hei, bengong aja nanti kesurupan hantu perpustakaan loh” sapaku sambil menghampiri dan duduk di sampingnya. Tidak sedekat seperti biasanya, dengan jarak sekitar satu meter dia membalas sapaanku “Gween, Harley ingin bersama Gween. Harley ingin menjadi pacar Gween, Harley cemburu jika ada pria lain yang dekat dengan Gween”. Tiba-tiba jantungku berhenti berdekat, nafasku terhenti berhembus, waktu terasa berhenti berputar, aku shok. Hatiku serasa ingin menangis, aku terharu dengan yang dikatakan Harley, disamping itu aku telah menyayangi Ramon.
Aku telah menunggu sepuluh bulan agar Harley menyatakan cintanya padaku, aku berusaha sedekat mungkin dengan Harley agar dia bisa melupakan Vicktoy. “ya Harley, Gween sayang Harley juga, Gween mau jadi pacar Harley” seketika aku tak bisa melepaskan pelukan yang deberikannya. Ramon tak mengetahui ini, aku menjadi linglung untuk membagi waktu dengan kedua pria yang aku sayangi. Sebenarnya rasaku kepada Harley tak sebesar sayangku kepada Ramon sehingga Ramonlah yang lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Aku dan Harley tak sedekat dulu saat kami masih berteman, ini sangat sulit dimengerti jika aku memikirkannya dengan perasaan, tak senyaman ketika aku dan dia berteman dulu, semuanya menjadi canggung.
Dimalam itu…
 percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
walau kau dengannya
namunku yakin hatimu untuku
song’s by Ecoutez.
Itu adalah nada dering handphone ku, pikirku itu pasti Ramon. Aku seketika terdiam dan perlahan memencet yes untuk mengangkat telephone yang ternyata tercatat disana adalah nama Harley. Entah angin apa yang membuat Harley menelphoneku, aku menyadari sikap kami yang canggung semenjak kami berpacaran. Hari itu hari kamis, lebih tepatnya tanggal 19 “hai, bagaimana kabarmu Gween?” sapa Harley yang terdengar lesuh “baik kok” singkat jawaban dari ku. “aku ingin kita putus, aku merasa hubungan kita ini gagal kamu emang lebih cocok menjadi sahabatku saja”. Aku tersenyum, aku legah dengan keputusannya yang diambil Harley, aku tidak bisa terus menerus hidup dengan keresahan memikirkan dua pria ini.
Waktu terus berlalu semenjak putusnya aku dan Harley. Aku menjalani liburan kenaikan kelas 3 dengan tenang dan masih menjalani relationship dengan Ramon. Hingga ketika liburan usai dan aku harus datang lagi menginjakkan kakiku di sekolah, tiga hari lebih cepat dari siswa lainnya karna aku harus mengikuti penerimaan siswa baru sebagai panitia yang diselenggarakan osis. penerimaan siswa baru, ospek itu berarti bertemu dengan Vicktoria ketua osis. Kabar yang tidak enak terdengar oleh kupingku “Gween tau gk, Harley kan jadian sama Salsa” ucap via teman sekelasku yang juga menjadi anggota osis. “hmmm? Bukannya salsa pacaran sama Nicko ya?” sambungku. “ih, udah putus tau, parah ya? Emang sih murid baru biasanya dapet yang bekas, abis dapet Nicko mantan kamu, eh dapet Harley mantan kamu juga”dengan blak-blakan Viapun tampak tidak senang, dan itu sangat terbaca dari nada bicaranya, tapi sebenarnya bukan hanya Via tapi Vicktoria sejak awal pun tak suka dengan kedekatan Harley dengan Salsa. Ternyata, dulu sebelum aku dan Nicko pacaran, Harley hanya sampai titik SMSan dengan Salsa karena Vicktoria menghalanginya.
Orientasi berlalu, aku dihadapkan dengan perasaan khawatir. Berat kakiku melangkah masuk kesekolah, menginjakkan kaki kedalam gerbang, karna setelah Harley memutuskan hubungan dengan ku saat libur kemarin aku dan dia tidak pernah lagi bertemu, dan mungkin sekaranglah waktunya. Kami masih berada didalam kelas kami yang dulu, masih kelas yang bersebelahan karna belum ada pembagian kelas. Aku berdiri didepan kelas, mengarahkan mataku kekelas sebelah yaitu kelas Harley. Ternyata diapun berdiri disana sambil menatapku, “hei, sinilah…” ajak Harley. Aku tersenyum dan mulai menghentakkan kakiku menuju kearahnya. Masih tersenyum “mmm?” aku dan Harley bahkan masih merasa canggung, aku melihat tampang bingung di wajah Harley dan akupun merasakan hal yang sama. “hahaha..” kemudian kami berpelukkan seakan tak ada orang satupun yang berada disekolah. “ehkemmmm” sapa guruku yang kebetulan sedang lewat, guruku bukan hanya menyapa, tapi mengacaukan party melepas rinduku pada Harley. “ooops” kami saling melepaskan pelukan dan merapihkan kemeja kami yang agak terlepas dari dalam celana dan rok kami. Kami memasuki kelas dengan sedikit mempercepat langkah kaki, kelasnya Harley, menghindar dari guru yang memergoki kami. Sesampainya dikelas, kami saling menertawai situasi yang bodoh tadi, seperti biasa Harley mencubit pinggangku dan aku menjambaknya.
“aku jadian dengan Salsa karna kesepian tanpamu. Kamu akhir-akhir ini jarang ada waktu untukku” ucap Harley yang mendinginkan suasana. Mimic wajahku yang masih tertawa kini berubah, diam dan sedikit senyuman agar aku bisa mencairkan suasana yang mulai beku karna dingin. “mmm terus?”jawabku dengan nada yang terdengar penasaran dan ingin tau. “aku jadian dengannya tanggal 18, saat itu…” bla-bla-bla. Harley terus bercerita, namun aku tak lagi bisa mendengar. Telingaku seakan tuli, jantungku berdetak sangat kencang dan sakit. Otakku bekerja sangat cepat memikirkan tanggal, membayangkan selisih angka dikalender. Bukankah tanggal 18 itu dia masih berpacaran dengan ku? Kemudian dia memutuskan ku pada tanggal 19? Itu adalah pikiran egoisku. Artinya adalah, dia memutuskanku bukan karna kesalahan yang aku buat, tapi karna ada wanita lain. Kemudian bagaimana tentang aku dan Ramon yang tidak dia ketahui? Maka saat itulah akupun menceritakannya, hanya keterbukaan diantara kita. Dan kini yang perlu dimengerti adalah hubungan kami yang tidak bisa lebih dari sahabat. Itu akan mengacawkan dan mencanggungkan hidupmu…
Play Song’s Ecoutez : Percayalah
Semoga dengan berakhirnya lagu ini aku bisa melupakan dan tidak mengharapkanmu lagi… Berteman lebih baik bukan???


READ MORE - CERPEN : Berteman Lebih Baik

19 Jun 2012

CERPEN : Mendengarkan untuk Mengenal

Tidak akan ada lagi air mata, senyuman didalam tangis, waktu yang terbuang karna lamunan, atau topi  untuk menutupi bengkaknya mata karena menangis semalaman. Sumuanya sudah berlalu karna hadirnya sesosok wanita dihidupnya. Bukan wanita yang cantik, tapi dia memancarkan sorot pandangan yang ceria, senyumnya membuatmu akan bahagia melihatnya, kemudian kamu akan membalas senyuman itu. Sarah, wanita ini datang bagai malaikat tak bersayap menyelamatkan seorang pria yang jatuh karna tersakiti oleh cinta. David tak pernah menduganya, wanita pendiam inilah yang meloloskannya dari kematian rasa. David hampir saja menyerah dalam menjalani hidup, pikirannya buntuh, didepannya terdapat jurang yang dalam kemudian dia hampir jatuh kedalamnya. Kini, sarah membangun sebuah jembatan dengan senyum cerianya disana.
Sarah, wanita yang tak pernah merasakan bagaimana memiliki sesosok pacar. Dia jarang berbicara jika berkumpul dengan teman-teman, dia hanya mendengarkan. Dia mendengar dengan menatap setiap orang yang berbicara, tatapannya carah dan bibirnya menunjukan bahwa dia senang mendengarkan. Karna terdapat senyuman kecil di bibirnya itu.
David pria yang patah hati, tiba-tiba diunjuk untuk berpasangan dengan Sarah dalam melakukan observasi di desa sekitar kabupaten lebak. Sebelumnya selama dan sampai semester 5 sekarang mereka belum pernah saling berbicara, hingga saat itu David datang menghampiri Sarah masih dengan menggunakan topi. Selain menutupi mata yang bengkak, dan tentu saja untuk menutup hatinya untuk wanita manapun.
“hai, kapan kita akan bergerak?” sapa David yang pasrah menjalani observasi dengan mahasiswa yang pendiam ini. Tapi sarah bukan mahasiswa yang bodoh, karna dia mendapatkan beasiswa sejak semester 3 karna IPKnya yang mencapai diatas rata-rata. Terkadang jika dia berbicara bahasanya sangat sulit dimengerti dan terbilang cukup berat. Hingga dia bosan dan malas untuk berbicara dengan orang yang tak mengerti bahasanya. “sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai” jawab Sarah yang kemudian tersenyum menatap David. Davit mengangguk “entar kamu message aku dinomor ini, katakan kapan kamu punya waktu untuk mendiskusikan observasi ini” sambil mengambil sebuah penah di dalam tasnya kemudian mencatat nomer handphone di notes Sarah yang tergeletak di atas  pangkuannya. Kumudian David bergegas meninggalkan Sarah, entah kemana perginya. Ketika sarah mengangkat kepala sedari menyalin nomer handphone David, dia lenyap seakan terbawa angin.
“aku selalu ada waktu, jika mau mendiskusikan sekarang aku tunggu didepan musolah selesai zuhur” massage itu mengejutkan David yang baru saja bergegas pulang menggunakan vespa GTS 300 super. Dia harus kembali lagi masuk dan memarkirkan motornya didalam kampus untuk menemui Sarah. “wanita freak, aneh, kenapa tadi dia tidak langsung saja mengatakannya kalau sekarang dia punya waktu? Kenapa SMS secepat itu? Bodoh!!!” gumam David diselang perjalanan memarkir motor.
Setelah sholat zuhur, David sudah nampak didepan musolah sambil duduk memainkan handphone. “hei, kamu gk sholat dulu?”sapa Sarah ramah. “dimana kita akan mendiskusikannya?” david memotong pembicaraan. “mmm bisa sambil makan siang di tempat yang ada WIFInya biar kita sekalian bisa mencari tau lokasi serta keadaan penduduk di sana tidak?” sarah terdengar excited dalam menjalankan observasi ini bersama David. David yang sedari tadi menunduk dan tidak menatap mata Sarah, kini pertama kalinya dia menatap sarah sambil mengangguk-angguk pelan dan membalas senyumannya.
Satu kemajuan untuk sarah membuat David tersenyum. Entah sudah berapa lama David tidak tersenyum, mungkin kurang lebih 4 bulan setelah tak sengaja mendengar ex girl friendnya berkata “David itu gampang ngeluarin duit buat aku, kemarin aja dia ngajak aku ke solo, pengeluarannya tuh hampir 3jt untukku, makanya nanti aja putusnya kalo dia sudah bangkrut karna aku” Faby bercerita di kantin kampus dengan notasi suara yang agak tinggi, wanita itu cukup ceroboh.
David dan Sarah sepakat untuk melakukan observasi di hari Kamis sepulang dari kampus. Sehingga mereka memiliki banyak waktu sampai minggu kembali pulang kejakarta. “ini akan menjadi perjalanan yang paling suntuk dalam hidupku, bertemu dengan wanita yang hanya bisa senyum kemudian kembali diam. Entah apa yang ada dipikiran wanita ini” gumam David didalam hati. Bagaimana David tidak berpikiran seperti itu? Sarah sama sekali diam membisu tanpa kata menatap layar terpaku. Hanya bola mata yang bergerak kesana kemari focus dengan apa yang akan dikerjakannya, dan jari tengahnya yang mendorong kesana kemari hexapad untuk menggerakkan pointer notebooknya. David berdiri dan ingin beranjak meninggalkan sarah, namun tangan kanan sarah tiba-tiba menarik selembar baju yang dikenakan David “hei, I got it” sambil menatap David dan kemudian tertawa kecil “lihat ini, rangkas jaya ibukota kabupaten lebak kita kesana dengan menggunakan kereta ekonomi dengan perjalanan 2jam dan tiket seharga Rp.2000. mereka memiliki 28 kecamatan, yang dibagi lagi atas 340 desa dan 5 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Rangkasbitung, yang berada dibagian utara wilayah kebupaten” David kembali duduk dan tersenyum menatap Sarah.
Sarah terus menerus membacakan apa yang ditemukannya didalam interconnected computer networks. Dan David tersenyum sambil menikmati secangkir kopi hangat. Entah apa yang dinikmati, kopi hangat disiang hari atau wajah Sarah yang memancarkan seribu kebahagiaan dari mata dan bibirnya kemudian seribu kebahagiaan itu kini akan dibagi untuk David. Kurasa itu cukup untuk menutup sakit yang dirasakan David setelah banyaknya uang yang telah diinvestasikan untuk Fabby sii cewek matre.
Hari yang ditunggu kini tiba, mereka terlihat begitu akrab hanya dengan sehari bersama ditempat diskusi. “hari ini kita akan mengarahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik” sarah membuka pembicaraan diperjalanan mereka menuju stasiun.
“hei kamu tau kisah angin? Udara yang bergerak diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga adanya perbedaan tekanan udara disekitarnya. Udara bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ketempat yang bertekanan rendah……” sepanjang perjalanan Sarah bercerita mengenai angin dan ketertarikannya terhadap angin. David hanya menatap Sarah dengan tatapan yang seakan jatuh kedalam hati Sarah. Wanita ini tiba-tiba menjadi pembicara yang sangat hebat, dia kini bisa dengan nyaman berbicara. Dia mendapatkan seseorang yang bisa mengerti setiap kalimat yang dituturkannya yaitu David. David juga menceritakan mengenai ketertarikannya kepada awan meskipun dia tidak dapat mendeskripsikan awan sebaik sarah mendeskripsikan angin.
Tiga hari menjalankan observasi, Sarah dan David merupakan pasangan observasi yang kompak. Mereka dapat menyelesaikan observasi mengenai desa sekitar kabupaten Lebak hanya dengan waktu yang cukup singkat. Mereka bekerjasama, saling mendengarkan dan saling memberi pendapat. Akhirnya ada satu hal yang dapat Davit mengerti, Sarah tak sependiam itu, dia hanya butuh teman yang mengerti dia, mendengarn kemudian bertukar pikiran dengannya dapat membuat David bisa mengenalnya. Sorot matanya, dan senyum kecilnya… Apa lagi yang kurang dari mereka?
Minggu, Jakarta. Diperjalanan David mengantar Sarah pulang kerumahnya “thank’s untuk tiga hari ini, aku harap kita akan selalu menjadi partner yang kompak, saling memberi rasa untuk berbagi suka, duka, pengetahuan dan apapun itu aku berharap kamu bisa disini bersamaku selama yang kita mampu” ucap David tanpa ragu sedikitpun. Sarah membisu selama beberapa menit, itu membuat David menunggu dengan perasaan yang was-was akan tanggapan Sarah. David sangat berharap bukan penolakan yang didapatkannya “aku tak ingin menjadi seperti Dewi Sanggalangit yang benyak memberikan persyaratan untuk pria yang ingin bersamanya, aku hanya ingin menjadi angin yang bisa berada diudara bersama awan” aku rasa itu bukan penolakan…
Yang mengikuti awan kemanapun dia pergi…

READ MORE - CERPEN : Mendengarkan untuk Mengenal