Get Money

 

18 Jun 2012

CERPEN : Karma-karma mu


Menjalani Long Distance Relationship itu gak gampang, banyak cobaan dan godaannya, kedua kata itu it’s not different. Enam bulan pertama aku dan Evan baik-baik saja, jarak yang kami butuhkan untuk bertemu sekitar kurang lebih 60km, butuh perjuangan antara kami untuk saling bertemu dan membagi waktu. Sehingga seminggu sekali kami meluangkan waktu dan mengkosongkan kegiatan untuk bertemu. Keluarga kami keluarga yang cukup dekat, karna ibu dan ayahnya adalah teman satu sekolahan Ayahku  dulu dan kami sering bertemu ketika masih kecil. Berteman, bersahabat, setelah remaja memutuskan untuk berpacaran. Kisah yang cukup tragis. Sebenarnya bukan itu yang tragis, melainkan ketika 6bulan menjalani LDR dengan Evan ada seorang pria bodoh yang datang kepadaku, mendekat seakan-akan tanpa ada yang membatasi kami, batasan-batasan seperti hubungan cinta kami dari masing-masing pihak. Nathan, pria ini memiliki hubungan yg cukup jauh dengan Lucy. Wanita ini merupakan anak didik ibu Nathan. Tidak ada yang special antara kedua keluarga Nathan dan Lucy, tidak seperti keluarga aku dan Evan yang membuat kami santai menjalani hubungan kami. Tapi Ibu Nathan sepertinya telah mempercayai Lucy untuk menjadi bagian dari cerita Nathan. Sayang sekali, cerita itu hanya sebuah short story selama 3 tahun yang berakhir ketika dia bertemu denganku. Disinilah awal dari cerita kami…

Apa kamu pernah mendengar sebuah pepatah kehidupan yang berbunyi “Jangan meninggalkan orang yang kamu Cinta demi Orang yang kamu suka, karena nanti orang yang kamu suka akan meninggalkan kamu demi orang yang dia cinta”. Cukup rumit untuk di mengerti sebab dan akibat dari kasus pepatah itu, namun tanpa kamu sadari kamu akan mengalaminya.
“heii, kenapa lo? Kayak orang pengidap 5L tau gk?!!” sapaku pada Nathan di busway saat pulang dari tempat seminar. “gw bingung gimana caranya mau mutusin Lucy” jawabnya dengan nada dan notasi rendah. “apa?? Lo mau mutusin Lucy? Setelah lo pertahanin tiga tahun, lo mau mutusin Lucy?” aku menatapnya dengan dahi yang mengkerut, wajah yang nampak sangat penasaran akan alasan Nathan memutuskan Lucy. “kenapa??” aku mulai lagi bertanya, sambil mengubah posisi alis yang tadinya mengkerut ku angkat menjadi selengkung pelangi. Menandakan mimic yang penasaran menunggu jawaban. Aku menatap Nathan berharap dia memberikan jawaban secepatnya, namun berlama-lama kemudian dia tetap saja membisu. “lo taukan kalo gw orang yang bisa diajak ngobrol, lo mau mengatasi urusan seorang sendiri karna lo itu gentleman? Emang segampang itu ya buat lo mutusin hubungan yang udah lo pertahanin? Emang bukan beban ya?” aku mulai memalingkan wajahku, memandang langit-langit busway yang tak ada gambarnya, menengok kekanan dan meluruskan pandangan tanpa menatapnya yang duduk di samping kiri ku. “gw ngerasa udah gk cocok aja, gw butuh orang yang bisa nyemangatin gw untuk datang ke kampus setiap hari, dan..”
“Emmm.. gw udah ngerti kq, goodLuck ya buat mutusin Lucy”aku memotong pembicaraannya karna cepat sekali untuk ku mengerti sebuah kondisi antara hubungan asmara orang lain. Persetan apa yg ada didalam pikiran Nathan, yang pasti, untuk kasus Nathan, korbannya adalah Lucy. Aku gk akan bantu Nathan meskipun aku dan Lucy tidak terlalu akrab, karna  Lucy pernah membaca message yang aku kirim pada Nathan. Isinya sangat pendek “iia Nathanku” namun bisa membuat Nathan dan Lucy bertengkar cukup hebat. Kami bertemu beberapa kali di kantin samping kampus tempat kami nongkrong, teman-teman sekelas kami. Sayangnya Lucy gk sekelas dengan kami, ataupun sekampus, bahkan dia tidak akrab dengan teman-teman Nathan, dia hanya sering diajak berkumpul. Begitupun dengan Evan, teman-teman kampusku bahkan hampir semua akrab dengannya meskipun Evan datang tak sesering Lucy yang bisa datang kapan saja berkumpul dengan teman-teman dikampus.
“Emma..” ema adalah namaku, suara yg memanggilku tak asing dan takperlu aku menebaknya, karna aku tau itu Nathan. “kenapa than, bahagia banget lo hari ini?” membalas sapaan Nathan. “ada yang mau gw omongin, gw udah putus sama Lucy dan gw mau lo yang bisa nyemangatin gw untuk datang kekampus setiap hari”.
Orang bekerja karna uang, uang sudah cukup menarik untuk kebanyakan orang pada umumnya dan menjadi penyemangat untuk seseorang itu bekerja. Sekolah untuk menuntut ilmu, ilmu itu tidak cukup menarik bagi orang-orang yang labil seperti kita. Hasil yang kita peroleh dari belajar disekolah, eveknya lama yang mengakibatkan kejenuhan masa dini. Biasanya sekolah hanya sebagai formalitas remaja dimana jika kamu gk sekolah, dianggap tidak berbobot. Sehingga menyebabkan banyak siswa yang bolos sekolah yang terpenting bagi tipe pembolos, yaitu udah datang kesekolahan. Maka disekolah membutuhkan sesuatu yang menarik perhatian, agar kita terpacu untuk semangat datang dan belajar. Meskipun ngabsen doang, pelajaran pasti gk ada yang masuk, apalagi jika yang menarik itu adalah pacar karna yang diperhatikan bukanlah pelajaran, tapi pacar. Tapi setidaknya itulah yang bisa membuatmu tertarik datang dan belajar.
“apa yang kamu pikirkan selama lima menit ini membisu?” sambungnya menatap wajahku sambil menggenggam kedua tanganku. Kami sudah sering berpegangan tangan, jika Evan melihat mungkin dia akan marah, tapi aku punya alasan untuk itu. Yaitu “gk sengaja kok” alasan yang sangat bodoh. Well aku bisa pakai alasan lain “tadi tuh dijalan aku mau jatuh, dan ditolongin sama Nathan biar gk jatuh lagi Nathan megang tangan aku deh sayang.. gk apa-apa ya? Kan Nathan ngejagain aku” bla-bla-bla… setelah itu Evan akan manyun selama 3 hari.
“Evan?” I’m not confuse, but that’s all yg bisa aku katakan. “ya, aku mengerti aku bakalan nunggu kamu kok” kemudian Evan tersenyum, tanganku yang tidak kuat melihat ekspresi wajahnya dengan cepat menggeplak kepalanya “ayo kekelas” ajakku. Kulihat dia hanya mengkerutkan dahinya sambil mengusap-usap kepalanya.
Pada hari Rabu, sebenarnya aku ada kelas dikampus. Tapi, karna Evan akan datang kerumah maka aku mengkosongkan jadwal untuknya. “gw gk bisa masuk, sakit” itu isi message yang aku kirim pada Nathan. Aku dan Evan menghabiskan waktu dirumahku dengan ngobrol, membicarakan kondisi kampus, teman-teman namun satu yang aku lewatkan “ cerita ku dan Nathan”. Tiba-tiba teman-teman kampusku datang kerumah menghampiri ku, “Emma.. kamu sakit ya?” sapa Gabby teman sekelasku didepan pintu rumah. “mmm, kalian? Ayo masuk” rumahku menjadi ramai, langit yang tadinya cerah tiba-tiba ditutupi awan gelap menakutkan. Itu adalah langit didalam hatiku. “Ini pasti idenya Nathan” gumamku dalam hati. Aku menatap Nathan yang hanya menunduk sedari datang kerumahku, melihat keadaanku yang baik-baik saja pasti hatinya hujan, badai, bahkan berangin topan. Aku datang dari arah dapur untuk memberikan minuman kepada teman-temanku, namun tiba-tiba Nathan berdiri dan berkata “aku pulang ya, lagi ada urusan” sambil menatap jam kemudian memalingkan wajah kearah Evan. Detak jantungku berdetek sangat kencang seakan ada tsunami di otakku, isi otakku kacaw.
“iih Nathan, padahal dia yang ngajakin kesini” seru teman-temanku yang lainnya. Nathan tidak mempedulikan, dia terus bergerak menuju motornya dan bergegas pergi. Sama sekali tak ada keinginanku untuk mengejarnya, tapi aku tau isi hatinya. Yang ada dalam hatiku hanya rasa ibah terhadapnya, mungkin karma dari pepatah itu berlaku untuknya.
Keesokannya, Nathan tidak lagi duduk disampingku. Dia mendapatkan incaran baru “Mia” dia bukan dari group kami, dalam sekelas ada beberapa group meskipun seluruh mahasiswa itu universal, independent, tetap saja kami terbagi menjadi beberapa group. Hari-hari berlalu, Nathan jarang jalgi bergabung dengan kami, dikantin, dan dimana-mana sosok Nathan tak lagi ada. Dia lebih mementingkan prioritas group Mia yang sekarang menjadi pacarnya. Pertentangan antara Nathan dan teman-teman pun mulai besar.
“huhh kenapa sih si Nathan itu? Udah gk pernah lagi gabung sama kita” salah satu temanku membuka pembahasan tentangnya. “Miang lah si Mia itu, tau miang gk? GE..NIT” ucap gabby dengan menggunakan bahasa melayunya. “hahaha, sii Nathan tuh mau aja dijadiin kacung sama Mia” sambung yang lainnya. Pembahasan mengenai Nathan itu berlangsung lama, Nathan menjadi trending topic pertama dikelompok kami setiap kali berkumpul. Selanjutnya aku, Nathan dan Evan “elu sih Emma, bukannya dipacarin aja si Nathan biar dia gk kemana-mana” seru salahsatu tamenku. “evan???” sambil membuka botol minuman dan meneguknya dengan cepat. Satu kata nama itu yang membuat mereka kemudian mengganti topic. “lagian pada sok mutusin Lucy sih” sambungku setelah meneguk minuman. “gk apa-apalah, kita juga gk welcomekan sama lucy” aku diam lagi. Tak ada yang menarik dari pembicaraan tentang Nathan, aku tidak terlalu merespondnya. Aku hanya diam dan menyaksikan mereka sibuk mengurusi urusan orang lain.
Semester 2, Nathan masih saja menjadi kacung di groupnya Mia. Namun, teman-teman tidak lagi respect pada Nathan. Nathan tak lagi menjadi trending topic. Yang menjadi tranding topic adalah Mia yang tak lagi sekelas dengan kita. “gw yakin, bentar lagi Nathan bakalan putus sama Mia” kini aku yang memulai membahas. Teman-teman hanya menatapku heran dan tidak menanggapinya. Kurang dari 2 minggu, Nathan duduk lagi disampingku. “hei, welcome..” sapa ku padanya. Dia hanya tersenyum padaku, kemudian group kami mulai ricuh dengan kedatanyannya kembali. Benar kataku, dia dan Mia hanya sebatas short story yang sangat singkat, mungkin bisa dibilang Memo, atau note. What ever…
Nathan kini kembali pada ku, menjemput dan mengantarku pulang dari kampus. Mengajakku jalan, dan menerima ku yang masih bersama Evan. Hanya sebatas teman bercerita, tidak dilebih-lebihkan atau menguranginya. “song’s: Dewa 19 Risalah Hati, itu lagu yang cocok untuk mu dari ku. Kemudian Nikita Willy penantian panjang” ucap Nathan dengan begitu lantang. Ini mengalir begitu saja, aku tak akan meninggalkan Evan hanya untuk Nathan, aku biarkan ini menjadi sisipan cerita didalam cerita panjangku dengan Evan. Sebuah kisah karma yang tragis untuk Nathan.jika itu lagu untukku, mungkin ini adalah lagu yang pantas untukmu…

What goes around comes around
What goes up must come down
Now who's cryin', desirin' to come back to me
What goes around comes around
What goes up must come down
Now who's cryin, desirin', to come back
Song’s : Alicia Keys “Karma”

bila umurku panjang kelak ku kan datang kubuktikan 
saat kubalas dan kau jelang, jangan menangis sayang
kuingin kau rasakan, pahitnya semua sia-sia
memang kau pantas dapatkan..
song’s : Coklat “karma”

READ MORE - CERPEN : Karma-karma mu

14 Apr 2012

CERPEN : Berakhir Dimalam Itu


Di sore itu, seorang gadis dengan pipi merona duduk terpojok sambil membasahi pipinya yang sedikit tembem. Dia menangisi seseorang yang dia tau akan meninggalkannya. Mungkin belum sekarang pikir gadis itu, tapi suatu saat nanti dia yakin pria yang berstatus pacarnya itu akan meninggalkannya. Terdengar isakkan tangisnya semakin kencang, dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti kalau dia ditinggalkan. Semua itu dia ketahui dari sebuah jejaring social yang menunjukkan sesuatu yang mencurigakan milik Alex pacar dari Aii pasangan yang sama-sama berusia 18 tahun. Di sana Aii menemukan sebuah percakapan Alex dengan temannya yang mengatakan bahwa Alex tidak benar-benar mencintai Aii. Itu adalah sebuah pernyataan yang cukup jelas bagi Aii untuk mengetahui bahwa Alex akan meninggalkannya.
 Dering handphone Aii berbunyi, dia menghapus kedua airmatanya kemudian mulai mengangkat telpon. “Hallo” sapa Aii dengan suara yang terdengar masihlah lesuh. “Aii, kamu udah siap-siap?” kata-kata itu membuat Aii ingat bahwa hari ini Alex mengajaknya makan malam bersama keluarga Alex. “ya ampun sayang aku belum mandi” sambil berdiri dan bergegas menuju kamar mandi. “yasudah, gk usah buru-buru sayang, ini juga masih jam 5 sore” jawab Alex menenagkan pacarnya yang terdengar sedang terburu-buru.
Mereka berdua adalah pasangan yang sangat harmonis, jarang sekali terdengar mereka berkelahi, bercekcok atau semacamnya. Aii adalah gadis dengan wajah yang manis dan Alex pun tidak kalah manisnya. Mereka berdua telah menghabiskan waktu 8 bulan untuk pacaran dan sekarang Aii di ajak Alex untuk dikenalkan kepada orang tuanya.
Tepat jam 6.30 sehabis magrib Aii di jemput Alex, Aii sebenarnya masih menyimpan sebuah kekesalan dari apa yang dia baca tadi siang. Tapi Aii tidak mau merusak suasana yang harmonis ini untuk yang pertama kalinya. Mereka menuju rumah Alex dan sampai tepat pada pukul 7.00 dimana keluarganya sudah mulai berkumpul dan berbincang-bincang di meja makan menunggu kedatangan Alex. “sayang, aku gugup” berbisik dan tersenyum manis kepada keluarga Alex yang menyambut hangat kedatangan Aii. “tenang aja sayang, mereka pasti suka kok pilihan Alex” sekali lagi Alex menenangkan Aii.
Malam itu adalah malam yang menyenangkan, mereka bercerita akrab sekali seakan-akan Aii sudah lama dikenal keluarga Alex. Namun tetap saja tulisan itu tidak sekalipun hilang dalam ingatan Aii. Aii berada didalam posisi kemunafikan dimana dia harus tersenyum didalam kehancuran yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya “untuk apa semua ini jika kamu akan meninggalkan ku?”. Namun sekali lagi Aii tidak mau merusak suasana makan malam yang mengasikkan.
Makan malam dan perbincangan telah usai dan kurang lebih jam 9 Alex mengantar Aii pulang. Seperti biasa, Aii akan mencium tangan pacarnya dan berkata “hati-hati sayang, jangan ngebut” tapi bukan itu yang keluar dari mulut Aii.
“Apa kamu mencintai ku?” dengan suara yang bergetar, dan mata yang berembun. Alex menatap Aii heran dan menjawab “tantu saja sayang”. “tapi kamu mau ninggalin Aii…” air matanya tidak tertahan lagi, Aii menjatuhkan dompet yang dia pegang dan menunduk menutupi wajahnya yang basah dengan air mata. Alex turun dari motor dan memeluk Aii, “hei, hei ada apa ini?” bertanya-tanya. “Aii baca pesan kamu, kamu Cuma mainin Aii kamu gk cinta sama Aii” sambil menangis dia mencoba berbicara. Alex mulai berpikir dan mulai mengerti apa yang dimakud dari ucapan Aii. “untuk apa semua ini? Untuk apa Alex kenalin Aii sama keluarga kalo nantinya mau ninggalin Aii? Alex jangan nunggu lama lagi, sekarang aja.. jika lebih lama lagi, Aii akan semakin sakit” Aii mulai meronta dan melepaskan pelukan Alex. Kini Aii masuk kedalam rumahnya sambil berlari. “pulanglah… sampai mendapatkan jawaban untuk pertanyaanku jangan pernah menemuiku”.
Kemudian Alex tidak pernah ada kabar, dan Aii terus saja menunggu. Dalam penantiannya dia terus saja membaca pesan percakapan Alex dan kawannya yang berisi:
“hay lex, kamu benar berpacaran dengan Aii?” Tanya Donita wanita yang sempat dekat dengan Alex. Dia wanita yang kaya dan berbadan sexy. Kakinya sangat indah sehingga dy senang mengunakan celana pendek dan rok mini. Tapi sayang sekali, berkali-kali dia ikut casting berkali-kali pula di tolak. Kulit wajahnya yang merona merupakan kelebihannya, dan sayang Aii lebih dulu memikat hati Alex. Aii bukanlah gadis Kaya, hidupnya sederhana dan apa adanya. Wajahnya enak dipandang meskipun kadang 1 jerawat datang merusak pemandangan, pinggul Aii yang besar, membuat aii tidak cocok menggunakan rok mini atau celana ketat. Rambutnya pun tidak rapih dan hampir selalu diikat, dia hidup bersama kakak laki-lakinya yang memiliki profesi yang sama dengannya yaitu kuliah. Pesona, perilaku Aii yang perhatian terhadap siapapun membuat gadis yang satu ini banyak di sukai kawan-kawannya. Percakapan Alex selanjutnya adalah:
“ah, ngegosip aja kamu” jawab Alex. “tapi benerkan gossip aku?” kembali Donita melontarkan pertanyaan. “aku gk benar-benar cinta kali sama Aii, cuma iseng aja pacaran sama Aii” kalimat itulah yang dilontarkan oleh Alex untuk sebuah pertanyaan yang konyol. Beberapa minggu Aii menunggu dan hanya bisa meneteskan airmata jika membaca pesan tersebut, selanjutnya Aii mulai bosan dan membuka pikirannya “jika dia tidak mau mengakui aku sebagai pacarnya, seharusnya dia tidak perlu menjawabnya, tidak perlu mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku! Setiap hari dia selalu mengatakan cinta dan sekarang karena gengsinya dia tidak mau mengakuinya” itulah yang kini ada di benak Aii. Hanya karna Aii dari keluarga yang sederhana, sehingga dia tidak mau mengakui gadis yang berparas manis itu. Disitulah titik terang majunya kehidupan seorang gadis yang sedang patah hati. Aii kembali membuka dirinya dan mendapatkan kembali pacar yang kaya.
“Sekarang entah sakit apa yang akan didapatkan ku lagi” pikir Aii yang tidak kapok memacari cowok kaya.
READ MORE - CERPEN : Berakhir Dimalam Itu

11 Apr 2012

CERPEN : Albino

Albino, pria albino yang berdiri di pojok busway itu memiliki paras yang familiar. Dia terlihat seperti Bule, dan sayangnya hanyalah pria dengan DNA albino. Tatapannya sangat menyebalkan, seperti dia tidak mau dipandang oleh ku. Aku sama sekali tidak merasa risih dengan pandangan itu, dan terus memandangnya. Pemikiran ini sebenarnya sangat sederhana, dialah yang risih. Aku berjalan menghampirinya “matamu belekan” kemudian tersenyum seakan-akan aku meledeknya. Dia memalingkan wajah dan membersihkan seputaran matanya. Kemudian kembali menatapku “ituh hidungmu banjir” hahaha, kami mulai akrab. Di situlah awalnya kami saling ngobrol. Kami saling menanyakan hal-hal yang umum satu sama lain, terkadang dia mulai bertanya, dan terkadang aku yang mulai bertanya.
Pembicaraan yang sederhana seperti arah tujuan, sekolah, tempat tinggal, dll yang kemudian membuat kami mulai bertukar number handphone. Meskipun hanya pembicaraan sederhana, tapi rasanya itu sangat menyenangkan. Menyenangkan mendapat teman baru dari perjalanan dengan busway. Lalu, ini adalah awal dari persahabatan kami sekitar 4tahun yang lalu kelas 2SMP.
Inti dari cerita ini, sebenarnya adalah akhir dari sebuah kehancuran persahabatan. 4 tahun kebersaman kami hancur karna satu kata yang di lontarkan Ramz, pria albino yang aku anggap sahabat. Malam itu kami terjebak di depan toko, berteduh karena hujan yang lumayan membuat kami menghentikan perjalanan. “ri, Ram cemburu sama cowo Riri, Ram cinta sama Riri”. Suatu problem yang universal yaitu masalah cinta!
Sudah ratusan kali dia berkata “cemburu terhadap pacarku” dan ratusan kali pun aku berganti pacar. Aku hanya menganggap kata itu hanya sebuah lelucon yang konyol. Sehingga setiap dia berkata “aku cemburu” maka saat itulah aku memutuskan untuk putus dengan mereka. Tapi kali ini berbeda, dia menambahkan kata “Cinta” aku di dalam kalimat unik yang dia lontarkan setiap ada kesempatan! Sebenarnya kata “Cinta” juga sudah ratusan kali dia katakan. Jawabanku, hanya menggatak kepalanya dan tertawa! Kali ini Yang berbeda adalah mimik wajahnya. Dia menangis dan menggenggam kedua lengganku. kami saling berhadapan.
Disana sangat gelap, karena sudah pukul 23.56. kami pulang dari art festival perpisahan/kelulusan SMA Kami. Well jawabannya aku hanya memeluk dan membisu tanpa ada satu kata pun yang bisa aku sampaikan! Sebenarnya aku bingung harus bagaimana. Lututku lemas seakan tak memiliki patella. Dia tak pernah menangis sebelumnya, menangisi pacarnya, mantannya pun tak pernah. Pernah suatu hari dia marah, dan sedih karna aku menangisi pria yang memutuskanku di kelas 2 SMA. Namun itu tidak membuatnya menangis.
Hujan meredah seakan kebingungan melihat tingkah kami yang dingin. Dia seolah ingin melepaskan pelukanku meminta kepastian, tapi aku mengeluarkan energy ku memeluknya lebih kencang. Seakan hanyut beberapa menit, aku mengingat semua yang pernah kita lalui 1minggu belakangan ini, tidak! 1 minggu tidak cukup, tapi 4 tahun kebersamaan kami ini, semuanya sangat indah seperti lagu “Andaikan kau datang kembai” dengan lirik “terlalu indah di lupakan” oleh tante Ruth…
Seperti yang aku ingat, saat kelulusan SMP yang seharusnya kuhabiskan 3hari bersama segerombolan kawanan SMP di puncak malah ku habiskan waktuku 3hari bersamanya di villa. Ehhem maksudku, bersamanya dan teman-temannya. Mereka juga kawanan yang lepas dari gerombolan, bahasa kasarnya bolos. Kami menginap di sebuah villa keluraga milik kawan sekelasnya, diawasi oleh ortu yang juga sedang berlibur. Disana kami melakukan aktivitas yang sangat melelahkan. Mulai dari memancing, kejar2an dengan sepedah, cebur2an di kali, dll.
Semua mengira kami adalah sepasang pasangan yang sedang berpacaran, lalu mereka akan berkata, “ah, kalian ini bikin kita iri saja”..
Aku ingat ketika itu tepatnya saat kelas 2 SMA, kami jalan2 mengelilingi kota dengan menaiki busway. Mencari angle yang pas untuk foto2. Gedung putih sebagai istana kerajaan kami, dan gedung konstitusi sebagai penjara bawah tanah. Rakyat pinggirannya adalah orang2 yang tinggal di kota. Begitulah kami merayakan hari Ultahku yang ke 16. Dengan meramaikan kota dengan sorak canda tawa kami.
Hari2 kami habiskan dikamarku, layaknya gadis seperkawanan yang sedang mencoba hal2 baru. Kami berbagi cerita, yang umum, rahasia, bahkan mengungkit masa kanak2 yang terkadang merupakan suatu kisah yang menggelikan. Dia berbagi orang tua, dan aku berbagi saudara. Karna kakak laki2lah satu2nya yang ku punya sekarang. Yang lainnya gone. Dan leave me alone, hingga aku bertemu dengan Ram si albino, dan keluarganya yang mencintaiku layaknya anak perempuan mereka.


“Tidak aka nada yang berubah dari kita Ri, hanya saja kamu tidak boleh pacaran dengan orang lain” kata-katanya mulai dewasa, apa aku yang kekana2an? Perlahan aku melepas pelukannya dan menatap Ram sahabatku, si pria albino ini yang kira2 30cm lebih tinggi dari ku. Tatapanku seolah sama seperti kita pertama bertemu di busway, tapi saat itu I wish him to be my friend, and now I expect him to be my boyfriend. So, for my first time, i pull his collar, and kissed his lips.

Hii.. this is my pict  (˘˘)
READ MORE - CERPEN : Albino

7 Feb 2012

CERPEN : Mimpi Bebas


Satu tahun empat bulan delapan hari, aku terkurung dalam hatinya yang sepi, gelap, kelam dan ketakutan. Aku selalu bertanya-tanya mengapa aku berada disini? Di dunianya dan terkurung dalam semua aturan yang dia berikan? Mimpiku kini berubah dari mimpi ingin menjadi gadis terbahagia dengan pangerannya layaknya cinderela menjadi rasa ingin bebas dan ingin melakukan apapun yang aku mau. Dia bukan pria yang bisa memanjakanku, atau pria yang penuh perhatian. Tapi dia adalah pria yang penuh aturan dan kekerasan namun dialah pria yang aku cinta, sedangkan aku? Aku adalah wanita bodoh yang terjerumus kedalam dunianya, menjadi bonekanya, dan gadis yang mulai merasa bosan dengan semua itu!
Aku tersadar dari jatuhnya aku kedalam hatinya sejak pertengkaran hebat kemarin. Dia mengayunkan sehelai telapak tangannya ke pipiku dan membiarkan aku menangis semalaman sejak keempat kawan karibku pulang dari rumah. Apa aku terlalu bodoh, hingga harus selalu jujur apa yang aku lakukan dalam keseharianku? Tapi apa ada gunanya jika aku berbohong? Ya! Setidaknya jika aku berbohong dia tidak akan menamparku hari ini. Tapi bagaimana dengan hari-hari sebelumnya dia memukulku? Apa itu karna kejujuranku?
Aku tidak bisa hidup tenang selama ini karna semua aturannya. Tapi aku selalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa aku ingin bebas. Aku tidak ingin diatur dengan siapa aku harus berteman, apa yang harus aku lakukan hari ini, dan kapan aku harus keluar rumah atau berada di rumah!
Lima bulan berpacaran dengannya itu adalah hal yang indah, dia begitu ramah, dan sangat menyenangkan. Dan entah apa yang merasukinya, pria posesif ini mulai menunjukkan sifat aslinya. Sedangkan aku, sudah terperangkap didalam semua aturannya. Mungkin didalam benak anda, aku hanya perlu memutuskan dan meninggalkannya. Apa kalian tau? Aku selalu ingin melakukan hal itu, tapi aku takut menghilangkan semua kenangan tentang apa yang telah aku lakukan dengannya selama ini. Apakah ada pria lain yang bisa menerima keadaanku sekarang? Dalam pikiranku, itu sangat mustahil!
Hari ini aku tidak mempedulikan hal itu. Aku tidak peduli apakah nanti ada pria yang bisa menerimaku, ataukah tidak! Adakah cinta tulus yang dapat menggantikan keegoisannya? Itu sama sekali menghilang dari bayangan benakku selama beberapa hari. Yang aku pikirkan dan terpenting sekarang aku ingin bebas diusia mudaku 18tahun ini! Aku ingin memiliki dunia seperti dunia gadis-gadis lainnya. Dan aku ingin berteman dengan siapapun yang aku mau. Keluar rumah dan mencari hal-hal baru itu sangat menyenangkan. Kemudian aku akan membuat pesta setiap hari dan berkumpul dengan teman2ku di rumahku sendiri! Aku rindu dengan semua itu, semua yang aku lakukan sebelum aku bertemu dengan Brian pria usia 19thn ini!
Dengan gugup aku merencanakan kebebasanku dari Brian. Aku menutup semua jendela, pintu rumah, dan tak kubiarkan ada sedikitpun cela disana. Aku menyambar handphone dan tas dikamar, kemudian melangkahkan kaki dengan perasaan waswas, lalu berlari sekencangnya meninggalkan rumah. Dengan gemetar aku mengetikan SMS untuknya “Aku ingin bebas darimu, maka aku ingin kita putus setelah 1detik kamu membaca pesan ini” send! Aku menelan ludah dan menunggu respon darinya. Cuaca disini begitu panas, dan jantungku berdetak sangat kencang sambil terus-menerus menunduk menatap handphone yang aku genggam. Aku mulai bosan menunggu dan meletakkan HP dikantong, belum lepas handphone dari genggaman, dia kemudian berdering. Terlihat disitu namanya dan membuat keringatku bercucuran diseluruh wajahku. Sejenak aku berpikir apa aku harus mengangkatnya atau tidak.
“Hallo?” sahutku dengan nada ketakutan. “Kamu dimana?”
“a… a…emm… aku.. aku dirumah.” Dengan mata melotot menunggu jawaban darinya.
“kalau begitu, bukakan pintu, aku sekarang berada di depan pintu” dia berkata seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Dengan nada bicara yang lembut, dan penuh dengan permohonannya membuat aku hanya diam membisu, berpikir “apa dia sudah berubah? Apa dia tidak akan memukulku lagi?” gumam itulah yang terbenak dalam pikiranku. Aku berdiri dan melangkah menuju rumah. Masih jarak 10 meter, aku melihatnya berdiri tegap di depan rumah sambil memegang HP menunggu kubukakan pintu. Aku terdiam sejenak tidak meneruskan langkah kaki, aku bahkan berjalan mundur dan membalikkan badanku.
“Aku tidak mau membukakan pintu. Aku takut kau akan memukulku”aku masih berbicara dalam telpon. “Febi… Febi… dimana kamu?” tut..tut..tut… telpone kemudian terputus. Aku lupa! Dibawah pot terdapat kunci cadangan, dan dia tau itu!! Aku berlari sekencang mungkin menjauh dari sana, menaiki angkot dan menunggu sampai angkot ini berhenti ditujuannya. Aku tidak tau dimana dan kapan angkot ini akan menghentikan perjalanannya! Masih dalam perjalanan, HP kemudian bordering.
“Hallo?”
“kamu dimana Feb? nanti kamu kenapa-napa dijalan” dalam pikir ku, apa dia lupa kalo aku memiliki ban hitam karate? Kali ini aku tidak akan termakan omongannya. “aku di dalam kamar”.
“Kamar yang mana? Kamu jangan mempermaikanku Feb, kamu berani sama aku? Lalu apa…” tut..tut..
Aku memutuskan telpon, dan mematikan HP. Dia mulai kesal dan nada suaranya mulai kasar. Aku tidak suka. Aku pergi kekos teman dan menginap beberapa hari di sana. Aku bahkan takut untuk balik lagi kerumah ku! Kurasa, aku tidak akan pernah kembali!!
Kini, apa aku merasa bebas? Ya! Tentu saja! kini aku dapat melanjutkan mimpi-mimpiku yang stuck.
Kemudian kalian akan berpikir “lalu apa yang terjadi dengan Brian? Atau, apakah kalian tidak bertemu lagi? Bagaimana dengan rumah, barang-barang, dan kehidupanmu selanjutnya?” itu akan terjawab jika kamu membayangkan kebebasanku dalam minggu-minggu ini. Dan aku tak ingin ini berakhir… so???

READ MORE - CERPEN : Mimpi Bebas